KSBSI : Partai Buruh Hak Konstitusional, Tapi di Indonesia Prospeknya Suram

by -601,762 views

Sejumlah serikat pekerja berencana menghidupkan kembali Partai Buruh untuk menghadapi Pemilu 2024. Namun, tak semua serikat buruh setuju dengan wacana ini.

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban mengungkapkan Partai Buruh prospeknya suram. Sebab, dalam banyak sejarah, pendirian Partai Buruh sering berakhir dengan kisah pilu.

“Karena kebanyakan berpikir akan sukses dengan jumlah potensi suara pekerja yang masif,” ingat Elly dalam keterangannya kepada redaksi, Sabtu (2/10).

Diungkapkan Elly, kehebatan Labour Party di Inggris, Australia, Wales, New Zealand, terjadi karena kekhasan kelompok commonwealth countries. Sedangkan situasi tersebut tidak bisa dialami negara lainnya, kecuali Norwegia, Israel, Brasil dengan Partido Trabalhista yang memiliki kaum kiri yang banyak. “Itulah sebabnya di luar negara ini, umumnya Partai Buruh gagal total,” sebutnya.

Elly mengingatkan, mendirikan Partai Buruh tidak cukup dengan modal angka data statistik jumlah buruh yang tahun ini berjumlah 128 juta. Atau hanya karena ketidakpuasan politik, apalagi romantisme aktivis buruh. Dari pengalaman sejarah Partai Buruh, inilah prasyarat Partai Buruh di negara lain sukses, sementara di negara lainnya banyak gagal.

Pertama, papar Elly, saat Labour Party di Inggris, Australia, Austria, New Zeland didirikan, jumlah buruh yang menjadi anggota serikat buruh (trade union density) sudah 35 persen dari keseluruhan buruh nasional. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 2,7 juta hanya 2 persen dari total pekerja. Ini menjadi parameter penting karena sebagai basis potensi pemilih.

“Untuk angka threshold partai politik saja jumlah 2,7 juta ini tidak cukup. Padahal belum tentu semua memilih Partai Buruh,” sebutnya.

Kedua, lanjut dia, hanya boleh ada satu serikat konfederasi nasional di negara tersebut, agar saluran politik buruh hanya melalui satu serikat tunggal. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki ratusan serikat buruh. Misalnya di Inggris hanya satu (Trade Union Council), Australia (Australian Trade Union Confederation) dan lainnya. Kecuali di Brasil ada beberapa serikat, karena memang beda sejarah dengan negara persemakmuran.

Ketiga, tambah Elly, sejumlah partai politik biasanya hanya dua kadang ada partai konservatif versus Partai Buruh, atau partai nasionalis versus Partai Buruh. Karena kalau banyak partai, suara buruh akan terpecah ke beberapa partai.

Mengapa serikat buruh di USA, German, Prancis, Austria, Denmark, Belgia, Italia, dan lainnya tidak menggunakan Partai Buruh? Tetapi malah memakai Partai Sosial Demokrat? Karena mereka tidal memiliki salah satu atau tiga alasan di atas.

Mengapa Leach Walesa, Polandia saat revolusi tidak menggunakan Partai Buruh malah dengan serikat Solidarnoz? Mengapa India, Jepang, Korea, Philippina dan lainnya gagal mendirikan PB? Lagi-lagi karena alasan tersebut.

“Saya memilih lebih baik belajar dari pengalaman orang lain, ketimbang membayar mahal kegagalannya. Namun, karena bikin Partai Buruh adalah hak konsitusional, jadi silakan, mana tau  sejarah dunia lain tidak berlaku di Indonesia,” pungkasnya.

Sejumlah organisasi serikat pekerja berencana menghidupkan kembali Partai Buruh untuk bersaing pada Pemilu 2024 mendatang. Ada sejumlah serikat buruh yang akan mendirikan Partai Buruh.

Di antaranya Rumah Buruh Indonesia-FSPMI, Rumah Buruh Indonesia-KSPI, Organisasi Rakyat Indonesia-KSPSI, KPBI, Rumah Buruh Indonesia-FSP KEP, dan Rumah Buruh Indonesia-FSP FARKES. Selain itu ada pula pengurus partai buruh yang lama, Serikat Petani Indonesia (SPI), Forum Pendidik dan Tenaga Honorer Swasta Indonesia (FPTHSI) dan Gerakan Perempuan Indonesia (GPI) turut jadi pendiri

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, rencana pendirian Partai Buruh ini karena selama ini suara-suara dari kelompok buruh tidak pernah terakomodir di parlemen.

“Suara kaum buruh dan petani nelayan serta konstituen partai buruh harus diberikan kesempatan yang sama melalui jalur parlemen,” ujar Said Iqbal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *