Ponpes Fashihuddin Nyatakan Bendera Tauhid Tak Bersifat Ideologis untuk Indonesia

by -1,101,200 views

KH. Asnawi Ridwan selaku Pengasuh dan Pimpinan Pondok Pesantren Fashihuddin menganggap Bendera Tauhid yang bertuliskan “Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah” itu tidak bersifat Ideologis untuk Indonesia. Bendera itu digunakan hanya sebagai pembeda dengan lawan dalam berperang, hanya bersifat teknis dan bukan bersifat ideologis.

Ia mengatakan “Di dalam kitab “Fath al-Bariy Syarh Shahi’h al-Bukhariy ‘ karya Ibn Hajar al-Asqalani disebutkan bahwa bendera yang pemah dibawa Rasulullah SAW. Berbeda warna di setiap waktu tertentu, ada yang putih, hitam, dan kadang kuning. Dan bendera itu digunakan dalam peperangan dan dipegang oleh pimpinan perang, bukan dalam keadaan normal. Dijelaskan bahwa bendera tersebut polos dan tidak ada tulisan apapun. Bendera itu digunakan hanya sebagai pembeda dengan lawan dalam berperang, hanya bersifat teknis dan bukan bersifat ideologis. Sebagaimana dalam pertandingan sepak bola, kedua tim yang bertanding harus menggunakan kostum yang berbeda warna agar tidak nyaru dan jelas mana teman setim dan mana lawan.”

Pengasuh sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren itu juga menilai Indonesia merupakan salah satu kawasan yang bersentuhan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ketika memerdekakan diri, para pendiri bangsa Indonesia menetapkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, yang menjadi pedoman bangsa Indonesia dalam bernegara.

“Indonesia merupakan salah satu kawasan yang bersentuhan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, secara umum dan Al-Qur’an secara khusus. Mayoritas warga Indonesia beragama Islam. Namun ketika memerdekakan diri, para pendiri bangsa Indonesia menetapkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, yang menjadi pedoman bangsa Indonesia dalam bernegara. Apakah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia bertentangan dengan al-Qur’an, sebagai dasar ajaran Islam? Tak ada satu pun sila Pancasila yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Justru sebaliknya, sila-sila Pancasila menyelarasi Al-Qur’an.” jelasnya.

Oleh karena itu, Ia menilai tak perlu memperhadapkan Pancasila dan Al-Qur’an dengan pertanyaan ‘Al – Qur’an atau Pancasila?’

“Semua ayat al-Qur’an yang di disebut atas menunjukkan bahwa Pancasila tidak berseberangan, melainkan justru berhubungan erat dengan Al- Qur’an. Sila-sila Pancasila senada dengan ayat-ayat al-Qur’an. Relasi Pancasila dan al-Qur’an bukan relasi biner. Jadi tak perlu menghadapkan Pancasila dan Al-Qur’an sebagai suatu pilihan, karena sila-sila yang ada dalam Pancasila memiliki makna yang terkandung juga Al-Quran,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *