Umat Islam Diimbau Tangkal Aksi Provokasi Selama Bulan Ramadhan

by -452 views

BANDUNG – Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bandung Barat mengajak seluruh elemen masyarakat kembali merajut persatuan bangsa pasca perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Hal ini diungkapkan menyusul banyaknya persoalan bangsa yang harus diselesaikan secara bersama-sama, seusai kontestasi pemilu yang digelar pada 17 April 2019.

Ketua Fatayat NU Kab. Bandung Barat Iis Masruroh mengakui pasca Pemilu kali ini suasana masyarakat masih begitu panas, yaitu dengan saling fitnah, sebar berita-berita hoax, ujar kebencian dan lain-lain. Dia pun berharap agar Fatayat NU tidak terprovokasi dengan hoax, harus cerdas, harus bisa membentenginya agar tidak termakan oleh informasi yang menyesatkan.

“Mari ciptakan Bandung Barat damai pasca Pemilu 2019. Kami mengajak seluruh Umat Islam untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 2019, supaya bersama-sama meningkatkan Ukhuwah Islamiyah, menjalin silaturahim, menghindari fitnah dan perpecahan serta saling memaafkan,” tegas Iis.

Hal itu mengemuka dalam kegiatan Halaqah Kebangsaan bertema “Kita Ciptakan Bandung Barat Damai Pasca Pemilu 2019” di Pondok Pesanren Al-Amin Sumurkembang, Ds. Citalem, Kec. Cipongkor, Kab. Bandung Barat, Prov. Jawa Barat, Sabtu (4/5/2019).

Dia melanjutkan pihaknya yang siap menjadi garda terdepan mengawal NKRI ini berkomitmen mengikuti rekomendasi dari Multaqo Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim yang mengajak Umat Islam di Indonesia, agar kembali kesepakatan para pendiri bangsa yang didalamnya Alim Ulama terkemuka bahwa untuk bangunan kenegaraan yang sejalan dengan ajaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Juga menghimbau agar Umat Islam untuk bersama-sama mewujudkan stabilitas keamanan, perdamaian dan situasi yang kondusif dengan mengedepankan persamaan umat manusia yang saling bersaudara satu sama lain.

“Kami mengajak seluruh Umat Islam di Indonesia untuk menghindari dan menangkal aksi-aksi provokasi dan kekerasan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab selama dan sesudah Bulan Ramadhan,” ucap dia lagi.

Iis juga mengingatkan agar seluruh Umat Islam di Indonesia senantiasa mentaati peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di NKRI sebagai hubungan yang konstruktif dan penuh rasa hormat pada pemerintah yang sah. Hal ini sangat jelas diajarkan tradisi agama Islam. Masyarakat juga diimbau agar tidak terpancing dalam melakukan aksi-aksi inkonstitusional, baik langsung dan tidak langsung.

“Seluruh Umat Islam di Indonesia untuk Fastabiqul Khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan guna meningkatkan ekonomi umat,” sebutnya.

Sementara itu mantan Ketua KPUD Kab Bandung Barat Dr. Iing Nurdin mengatakan bahwa Pemilu 2019 menimbulkan beragam konflik, makanya dia menaruh harapan kepada Fatayat NU sebagai perempuan yang tangguh harus mampu meredam, mengawal, mendinginkan, mengakhiri perbedaan pandangan yang membuat ricuh masyarakat.

“Usia Fatayat NU yang ke-69 merupakan usia yang sangat cukup matang untuk memperjuangkan bangsa/NKRI. Perempuan adalah tiangnya bangsa, bagaimana memanage bangsa kedepan, terutama pasca Pemilu 2019 ini. Kader Fatayat harus bisa memberikan manfaat kedepan bagi keluarga, masyarakat serta NKRI pada umumnya,” jelas lagi.

Dosen Unjani Bandung menyerukan agar perbedaan pandangan harus segera diakhiri. Katanya, tugas bersama adalah menjalin silaturahmi kembali pasca banyaknya perbedaan. Tugas semua rakyat Indonesia adalah bersama-sama membuat nyaman dan mendinginkan suasana pasca Pemilu 2019 ini, juga berpikir bagaimana Fatayat NU bisa memberikan manfaat kedepan bagi keluarga, masyarakat dan bangsa pada umumnya.

“Perbedaan pandangan harus diakhiri dengan mendinginkan suasana pasca Pemilu 2019,” tambah Iing.

Pengurus PCNU Kab. Bandung Barat KH. Hilman Farid membeberkan bahwa Aswaja mengusung konsep Islam yang mengedepankan nilai kedamaian, harmoni dan kasih sayang. Ajaran Aswaja mengedepankan Islam Rahmatan Lil ‘Aalamin. Politik Aswaja memiliki beberapa prinsip mendasar.

“Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) hadir dengan terminologi khas, sejak dulu Aswaja mengusung konsep Islam yang menegedepankan nilai kedamaian, harmoni dan kasih sayang,” kata Kyai Hilman.

Lebih jauh, Ketua Lajnah Bahtsul Kutub Kab. Bandung Barat itu membeberkan bahwa pergumulan antara Aswaja dan ranah politik memang bukan hal yang baru. Karena itu, politik Aswaja sudah memiliki karakter dan ciri khas tersendiri, berbeda dari paham atau aliran lainnya.

Dijelaskannya, politik Aswaja memeiliki beberapa prinsip mendasar, yaitu : Al-Tawassuth, artinya moderat, tidak ekstrem liberalis-kiri atau fundamentalis-kanan. At-Tawazun, artinya seimbang dalam penerapan kaidah, teks, rasio dan realitas. Al-I’tidal, artinya tegak lurus dan tidak mudah terprovokasi dan At-Tasamuh, artinya menjunjung tinggi sikap toleran.

“Keempat prinsip politik diatas betul-betul memperlihatkan kedewasaan berpolitik pengikut Aswaja,” pungkas Sekretaris Forum Pondok Pesantren Kab. bandung Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *