Bukti Lahirnya Demokrasi Karena Ada Pengorbanan Hilangnya Aktivis Mahasiswa 98

by -456 views

JAKARTA – Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 98 (Jari 98) angkat suara perihal fenomena malapetaka lima belas Januari 1974 atau yang lebih dikenal dengan Malari. Peristiwa yang sering digambarkan sebagai kerusuhan sosial yang dipicu oleh aksi mahasiswa Jakarta, namun ditumpas hanya dalam semalam oleh presiden Soeharto dan ABRI-nya.

Namun saat ini merupakan momentum bagi aktivis 98 dalam mengisi demokrasi dengan menentukan pilihan pada sosok capres-cawapres yang tepat di Pilpres 2019. Lantaran bagaimana pun sejarah membuktikan bahwa lahirnya demokrasi saat ini merupakan bentuk pengorbanan hilangnya para aktivis mahasiswa pada tahun 1998 silam.

Peristiwa hilangnya aktivis mahasiswa, yang kemudian disebut sebagai insiden penghilangan dan penculikan paksa tersebut, terjadi pada masa pemilihan presiden Republik Indonesia periode 1998-2003.

“Persetan dengan peristiwa Malari 74, kini tahun 2019 dan eranya Aktivis 98. Jari’98 miliki prinsip jelas dalam mengisi demokrasi dan komitmen terapkan kejujuran, keterbukaan serta kesetiaan,” kata Ketua Presedium Jari 98 Willy Prakarsa, Rabu (16/1/2019).

“Aktivis 98 itu tidak pernah cengeng dalam menghadapi situasional apapun, masuk penjara adalah hal yang biasa sebagai corong aspirasi rakyat, entahlah kalau aktivis yang bukan dari 98, pasti sudah bikin surat penangguhan penahanan dengan alasan ini dan itu,” lanjutnya.

Kemudian, masih kata Willy, berbeda pandangan dalam berpolitik merupakan hal yang wajar karena bagian dari demokrasi, namun politik tidak cuma sebatas lentur dan elastis tetapi harus miliki prinsip dan komitmen yang jelas. Dia pun menyindir tokoh Malari Hariman Siregar yang tak jelas arah politiknya.

“Kalau masih abu-abu dalam melihat kisi-kisi mendingan tarik selimut dan tidur aja dirumah. Aktivis 98 miliki peluang dan potensi kuasai Istana jelang 2024 mendatang. Oleh karenanya dalam berpolitik saat ini jaga sikap lebih mengedepankan intelektualisme dari pada jadi kompor memanas-manasi suasana jelang Pileg dan Pilpres 17 April 2019,” tambah dia.

Willy menegaskan bagi aktivis 98 yang mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf merupakan aktivis yang benar-benar memahami betul tentang sejarah masa lalu khususnya tragedi di era orde baru. Mengingat menentukan pilihan terhadap capres Prabowo Subianto sama saja dengan menodai perjuangan para aktivis 98.

Mengingat Tim Mawar bentukan Kopassus adalah yang paling bertanggungjawab atas peristiwa penculikan ini. Dalam hal ini dikaitkan dengan Prabowo yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

“Daripada harus coblos makhluk Tuhan lainnya. Jari’98 mengingatkan bahwa namanya Aktivis 98 itu sulit dikendalikan, namanya juga Aktivis? Makhluk Tuhan yang paling nakal dan gemar sentil penguasa lewat aneka ragam kritiknya. Namun senakal-nakalnya Aktivis tetap saja Makhluk Tuhan yang paling mulia jika di bandingkan dengan Makhluk lainnya seperti Amin Rais,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *