Hoaks, Ujaran Kebencian & Provokasi, SDR : Hasilkan Demokrasi yang Tidak Sehat

by -1,055 views

Jakarta – Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto, menegaskan bahwa isu hoaks, ujaran kebencian dan provokasi dalam Pemilu 2024 punya dampak buruk yang serius terhadap demokrasi.

“Yang pasti ujaran kebencian, hoaks, untuk membangun apa yang dibangun oleh kelompok-kelompok terutama kelompok anti pemerintahan memberikan proses demokrasi yang tidak sehat,” kata Hari Purwanto pada Rabu, (27/9/2023).

Hari menyatakan, untuk mengantisipasi sebaran hoaks, ujaran kebencian dalam pemilu harus segera dilakukan pencegahannya dengan melibatkan aparat penegak hukum.

“Pertama tentunya aparat penegakan hukum harus bisa pertama adalah membuka call center terhadap laporan-laporan hoaks dan ujaran kebencian,” ujarnya.

“Kedua, intinya perlu ada monitoring dan evaluasi terhadap siber-siber hari ini, kan dari medsos terus ruang-ruang yang memungkinkan untuk melakukan penyebaran hoaks dan ujaran kebencian,” sambung dia.

Ketiga, ditegaskan Hari, yakni memberikan literasi digital kepada teman-teman atau generasi yang hari ini cukup menjadi penentu dan mayoritas yaitu kelompok generasi milenial dan generasi Z.

“Yang artinya bisa menjadi salah satu pintu untuk meredam terjadinya ujaran kebencian. Tentunya harapan adalah dari generasi milenial dan generasi Z tidak menjadi trigger untuk membangun ujaran kebencian,” katanya.

Hari mencontohkan bahwa, pada tahun 2017 hingga 2019, terus diwarnai sentimen-sentimen politik ditingkat masyarakat bawah sehingga cenderung mengarah kepada perpecahan akibat terjadinya polrasirasi.

Ditegaskan, saat ini isu yang terus digalang oleh kelompok anti pemerintah yakni adanya gerakan massa yang mengatasnamakan dirinya sebagai people power.

“Yang pasti kalau dulu kalau hari pasca Pilgub 2017, Pemilu 2019 yang hari ini dibangun adalah salah satu contohnya adalah pertama terkait masalah isu people power. People power yang dibangun Amien Rais ini pun juga belum jelas arah dan seperti apa yang mau dilakukan,” ungkapnya.

Kemudian perihal terjadinya fenomena cebong-kampret, Hari melihat dan meyakini hal ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.

“Saya pikir itu tidak akan muncul kembali karena para desainer pembuat isu cebong kampret ini sudah berbeda pilihan hari ini,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *