Bahas Taat Konstitusi, LHS : Jangan Dibenturkan, Karena Itu Wujud dari Ketaatan Beragama

by -154,090 views

Jakarta – Menteri Agama (2014 – 2019) Lukman Hakim Saifuddin (LHS) mengajak masyarakat untuk tidak memperhadapkan apalagi membenturkan antara ketaatan warga kepada ayat-ayat konstitusi dengan ketaatan kepada ayat-ayat suci. Menurutnya, kedua hal itu mestinya tidak untuk diperhadapkan, karena keduanya saling melengkapi dan bersinergi dalam rangka mewujudkan peradaban kemanusiaan yang lebih baik.

Pesan ini disampaikan LHS, panggilan akrabnya, saat berbicara dalam Diskusi Publik tentang “Aspek-Aspek Kemanusiaan dalam Peradaban Islam.” Seminar ini digelar Majelis Hukama Muslimin (MHM) dalam memeriahkan Islamic Book Fair (IBF) ke-20 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (5/8/2022). Mengambil tempat di panggung utama IBF, seminar juga menghadirkan Prof Dr. M. Quraish Shihab (Menag 1998) dan Dr TGB Zainul Majdi (Gubernur NTB 2008 – 2018) sebagai pembicara. Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin juga hadir memberikan keynote speech.

“Cara pandang dan perspektif kita, jangan memisahkan apalagi membenturkan fungsi-fungsi kemanusiaan kita, sebagai hambaNya, khalifahNya, mahluk sosial, dan pengelola alam semesta. Penerapan fungsi yang beragam itu saling melengkapi satu dengan lain. Kalau saya taat kepada ayat suci, itu diimplementasikan melalui ketaatan kepada konstitusi. Kalau saya menaati konstitusi, konsensus dan komitmen berbangsa, maka itu wujud dari ketaatan terhadap ajaran agama,” jelas LHS yang juga tercatat sebagai Mustasyar Pesantren Al-Hamidiyah, Depok-Jawa Barat.

Menurut LHS, manusia mengemban banyak fungsi. Dua di antaranya adalah sebagai hamba Tuhan dan juga pengelola alam raya. Manusia, dengan potensi akal yang dimilikinya, mendapat amanah Tuhan untuk memakmurkan bumi. Sejarah mencatat, kemajuan sejarah peradaban Islam antara lain dilatari oleh adanya kemampuan masyarakat pada zamannya untuk menyeimbangkan pelaksanaan dua peran ini, sebagai hamba dan sebagai pengelola alam. Sebaliknya, kemunduran peradaban Islam, antara lain disebabkan perilaku umat yang ekstrem yang membenturkan kedua peran, sehingga lahirkan ketidakseimbangan.

“Kalau dicermati, apa faktor pembeda mengapa ada peradaban di mana dunia Islam begitu berjaya, melahirkan sejumlah ulama dan cendekiawan besar, tapi juga ada masa yang kelam di mana antar sesama kita saling perang, itu kalau ditelusuri, faktor pembedanya bisa dilihat dari kemampuan umat untuk menyeimbangkan fungsi-fungsi kemanusiaan kita,” paparnya.

“Seringkali, sebagian kita memiliki cara pandang antara satu fungsi dengan fungsi yang lain itu dipisahkan, atau diperhadapkan, atau bahkan dibenturkan. Kita seakan diminta untuk memilih apakah taat kepada Tuhan atau taat kepada kesepakatan manusia? Dua hal yang semestinya tidak diperhadapkan, karena justru harus disinergikan,” terang LHS.

“Ketaatan kepada ayat-ayat suci dengan ayat konstitusi tidak semestinya dipisahkan. Pandangan yang memperhadapkan seperti itu perlu diluruskan. Sebab fungsi-fungsi yang beragam-ragam, itu bukan untuk diperhadapkan tapi menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” sambungnya.

LHS berharap kesadaran akan pentingnya mensinergikan fungsi-fungsi kemanusiaan dapat terus ditingkatkan sehingga peradaban Islam semakin membaik. Semua fungsi kemanusiaan yang ada harus dimaknai dalam konteks saling mengisi dan bersinergi saling melengkapi sehingga bisa menjadi kekuatan dalam membangun peradaban.

“Saya mengapresiasi ikhtiar Majelis Hukama Muslimin dalam kaitan ini dan saya berharap Majelis Hukama tetap mampu menebarkan kemaslahatan bagi kita semua,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *