Sentil Demo 121 BEM SI Reformasi Jilid 2, Rawan Ditunggangi Politik

by -1,036 views

Jakarta – Aksi yang diklaim besar-besaran diberi nama “Aksi Bela Rakyat / 121” oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) banyak ditanggapi dengan kritikan. Kritikan kali ini muncul dari mahasiswa Pascasarjana Moestopo Beragama yang menilai bahwa demo tersebut hanya memanfaatkan euforia 411, 212, dan sekarang 121.

“Aksi kali ini saya nilai kurang matang, hanya manfaatkan euforia 411, 212, dan sekarang 121. Disini cuma permainan angka-angka saja,” ungkap Bimo, hari ini.

Lebih lanjut, Bimo mengingatkan agar BEM dan mahasiswa harusnya lebih mengutamakan budaya dialog dah diskusi dibanding demo-demo yang dianggap sangat rawan di tunggangi oleh para elit politik. Selain itu, lanjut dia, para BEM harusnya juga lebih menunjukan sisi intelektualnya dengan pembahasan serta kajian-kajian yang lebih terukur dalam mengkritisi atau menyuarakan pendapat.

“Sebagai kaum terpelajar BEM & mahasiswa harus bisa lebih cerdas dalam menyikapi situasi yang terjadi, tidak lantas reaktif sesaat dan ikut-ikutan langsung ambil tindakan demo,” beber dia.

Bimo mengakui demo sah-sah saja untuk di lakukan, akan tetapi sebaiknya dilakukan terlebih dulu kajian-kajian yang mendasar, dialog-dialog yang mendalam tentang suatu permasalahan serta di diskusikan lagi dengan cermat, apakah perlu aksi atau tidak.
Dengan situasi bangsa yang sekarang ini dengan pertumbuhan ekonomi mulai membaik, keadaan yang damai belum perlu untuk mahasiswa melakukan demo besar-besaran.

“Apalagi muncul kata-kata reformasi jilid 2. Perlu ada kajian dan dialog lebih dalam. Kalau kita duduk bersama pasti ada solusi yang baik buat bangsa dan negara,” jelasnya.

Dibalik Demo 121 ala BEM SI Ada yang Desaign

Sementara itu, pengamat politik Bonie Hargens menjawab singkat terkait demo 121 yang akan dibawakan BEM SI kali ini. Dia mensinyalir gerakan mahasiswa kali ini ada aktor dibelakang layar alias ada yang mendesaign nya.

“Ada yang desaign,” ucap dia.

Saat dicecar sosok yang desaign tersebut, Bonie menyebut masih ada sangkutpautnya dengan isu makar yang kini sedang diungkap oleh Polri.

“Masih terkait isu makar yang Polri sudah ungkap,” sebutnya.

Denny Siregar Beri Nasehat Bijak ke BEM SI dengan Cuitan Lelucon

Aksi Bela Rakyat BEM SI juga ditanggapi dengan sebuah cuitan lelucon oleh Denny Siregar. Denny menulis pada website pribadinya dennysiregar.com, membuat ramai pengguna medsos, khususnya WhatsApp, Selasa (10/1/2017).

Berikut kutipan tulisannya:

Lucu baca rencana aksi mahasiswa tanggal 12 Januari nanti. Mereka menamakan gerakan mereka 121, mirip ma gerakan 411 & 212. Sepertinya ada yang lagi senang ma susunan angka-angka sehingga dijadikan simbol.

Yang paling lucu adalah, mereka menamakan gerakan mereka Reformasi Jilid II.

Mencoba nostalgia dengan gerakan kakak-kakak mereka di tahun 98 yang kebanyakan sekarang udah pada kenyang di DPR, perutnya gendut dan rambut mulai botak. Malah ada kakak-kakak mereka yang dulu teriak-teriak “Demi rakyat!!” sekarang lagi tidur-tiduran di sel karena tertangkap mencuri uang rakyat.

Ada lagi yang lebih lucu…

Seorang mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia (UII) berkata kepada media, “Kenaikan tarif biaya STNK, BPKB, SIM, disusul kenaikan harga BBM dan ditambah tingginya harga cabai hingga mencapai 200 ribu lebih, dianggap menjadi bukti nyata ketidakberhasilan Jokowi memimpin Indonesia.”

Permisi, harga cabai?? Indikator ketidakberhasilan Jokowi dilihat dari harga cabai? Ini mahasiswa apa emak-emak?

Rasanya mau sobek celana membaca masalah kenaikan biaya STNK 100 rebu rupiah yang hanya 5 tahun sekali itu diributkan. Ditambah BBM naik yang non subsidi juga dipermasalahkan. Duh, kok indikator ketidakberhasilan Jokowi itu cuman bernilai beberapa rebu rupiah gitu, ya?

Kenapa si siswa yang merasa maha ini tidak melihat indikator yang lebih besar? Misalnya kembalinya dana ribuan triliun rupiah melalui amnesty pajak ke Indonesia? Atau, selamatnya 120 triliun potensi laut Indonesia oleh Menteri Susi? Atau, selamatnya uang negara 275 triliun per tahun yang sekian lama dibayarkan ke Petral dalam pembelian migas?

Yang dibahas Jokowi itu triliun, Nak. Bukan rebu… Kebiasaan jajan minta emak sih, jadi gak paham triliun itu enolnya berapah.

Coba si siswa yang belum lurus kencingnya itu tanya ke warga Papua. Berapa triliun yang dikucurkan Jokowi untuk pembangunan infrastruktur di sana? Sesuatu yang selama ini tidak pernah dilakukan pemimpin sebelumnya.

Tanya ke NTT, berapa triliun lagi yang dikucurkan Jokowi untuk pembangunan 7 waduk besar di sana? Supaya mereka tidak akan pernah kekeringan lagi ketika musim kemarau panjang tiba.

Sekali lagi, ini kita ngobrol triliun rupiah, adek-adekku yang ganteng-ganteng, tapi keteknya jarang kena deodoran. TRILIUN, tuh gua tulis pake hurup kapital, biar bulu halus di atas bibir kalian bisa meregang.

Dan, kalian meributkan harga cabai yang naik 200 rebu rupiah per kg, yang bukan kebutuhan pokok dan naik sementara hanya karena momentum saja?

Kalian ini nanti, lulus cita-citanya mau jadi tukang sayur atau gimana?

Belajar dulu lagi lah, hitung-hitungan. Jangan nanti salah lagi ngitung peserta demo yang hanya beberapa ratus orang tapi diklaim 7 juta jiwa… Mending kalian pelajari lagi dengan seksama bagaimana men-download video Mia Khalifa dengan baik dan benar.

Sinih, abang ajak minum kopi. Jangan pake susu kalo berasa laki. Sudah saatnya kalian itu berpikir lebih besar. Malu ma gelar “Maha”nya kalau ternyata kalian hanya sekelas cabe-cabe-an…

Laki itu seruput, bukan minum pake sedotan.

Pahamkan itu, kunang-kunang…

Aa Gym Minta Aksi 121 Tetap Jaga Akhlaq

Gerakan BEM SI kali ini juga mendapat perhatian dari Dai kondang KH Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym. Menurut pimpinan Pondok Pesantren(Ponpes) Daarut Tauhiid ini, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Koreksi juga hal yang diperlukan, hanya saja harus harus mengedepankan akhlak.

“Jangan sampai kritik tanpa akhlaq, sehingga menjadi kedzoliman,” ujar Aa Gym ditemui indopos.co.id usai memberikan tausiyah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, Rabu (11/1).

Dia mengingatkan, aksi 121 harus tetap menjaga akhlaq, agar keutuhan bangsa tetap terjaga.

“Jangan sampai bangsa ini pecah karena akhlaq yang tidak dijaga,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *