Polisi Tangkap Provokator Demo 4 Nov, HMI Bagian dari GNPF MUI atau Bukan??

by -112 views

Jakarta – Demo 4 November 2016 secara besar-besaran didepan Istana Negara oleh umat Islam menjadi catatan tersendiri yang nampak dihadiri ratusan ribu berpakaian putih-putih.

Namun, disisi lain aksi demo itu menjadi tercoreng disaat gerakan damai penyampaian dimuka umum tersebut justru berujung anarkis. Alhasil, mobil truk dan mobil patroli Polisi terbakar bahkan enam belas mobil mengalami kerusakan.

Melihat kejadian tersebut, beragam komentar pun mengalir dari sejumlah warga DKI dan mahasiswa, diantaranya

Warga Pejaten Noer sangat menyayangkan demo 4 November itu yang berujung anarkis. Dia pun mendengar ada provokator telah ditangkap yang merupakan bagian dari demonstran tersebut.

“Saya tidak mau menyebut organisasinya, tapi yang jelas kan mereka ikut bergabung. Tapi aktor dibelakangnya juga harus dicari, apalagi itu bisa sampai ke arah penjarahan di wilayah Penjaringan Jakarta Utara,” ungkap Noer, Selasa (8/11/2016).

Dia mensinyalir ada pengatur irama dibalik skenario demo tersebut. Selain itu, Noer menyoroti fenomena demo itu nampak hanya yang dominan adalah atribut dan bendera Front Pembela Islam (FPI), sementara bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampak tidak terekspos.

“Demo kemarin yang lebih dominan FPI, karena benderanya tampak lebih banyak ketimbang HTI yang mempunyai pengikut lumayan banyak kurang terekspos,” jelas dia.

Dia mengingatkan sebelum demo 4 November nampak kompak diantara HTI dan FPI yang sama-sama dominan dan menyerukan agar masyarakat tidak memilih Ahok pada Pilgub DKI. Peserta aksi disana membentangkan spanduk bertulis ‘Haram menentukan Pemimpin Kafir’.

“Kita menolak pemimpin kafir. Hal ini telah termuat pada Alquran. Ini bukan masalah SARA,” kata Jubir HTI, Muhammad Ismail Yusanto.

Cari Aktor Yang Tunggangi Demo 4 November

Mengutip pernyataan Presiden Jokowi yang disampaikan pada Sabtu (5/11/2016) sekitar pukul 00.10 WIB, untuk menanggapi Demo 4 November 2014:

“Tapi kita menyesalkan kejadian ba’da Isya yang seharusnya sudah bubar, tetapi menjadi rusuh. Dan ini kita lihat telah ditunggangi oleh aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi.”.

Menurut mahasiswa pasca sarjana Moestopo Bimo, memang terlihat jelas bagaimana demo yang seharusnya damai dan memiliki tujuan mulia, akhirnya menjadi “cacat” akibat ditunggangi oleh beberapa elit politik yang memanfaatkan kekuatan umat, para ulama, para kyai, para habaib serta para ustaz untuk memuaskan ambisi kekuasaan mereka. setidaknya hal ini bisa terindikasi dari beberapa pesan atau pidato politik beberapa tokoh politik di negeri ini, yang bukan mengkondusifkan suasana, malah cenderung memprovokasi.
“Demo yang seharusnya tentang dugaan penistaan agama oleh Ahok. Kenapa jadi menyudutkan Pak Jokowi,” ucap Bimo.

Kata Bimo, agar memperhatikan kutipan orasi yang disampaikan pada demo 4 november lalu oleh beberapa para elit politik berikut ini:

Amien Rais :”JOKOWI jangan main-main sama kuasa Allah, Pak Jokowi segera menuntaskan kasus Ahok”…

Fadli Zon :”Apakah JOKOWI belum melihat dan mendengar keinginan sebagian rakyat, apakah Presiden masih mau menutup mata dalam aksi terbesar dalam sejarah kita?…

Fahri Hamzah :” Tak ada lagi rakyat yang dukung JOKOWI”… “Jatuhkan presiden itu ada dua cara, pertama lewat parlemen ruangan dan kedua lewat parlemen jalanan,”….

Kata dia, memaksakan presiden untuk intervensi hukum, bukankah itu melanggar konstitusi itu sendiri?? Padahal tujuan demonstrasinya sangat mulia untuk menegakkan hukum seadil-adilnya.

“Aakah adil namanya, jika memaksa presiden intervensi hukum supaya Ahok di hukum atau di penjara?,” ujarnya.

Kata dia, pada dasarnya keinginan para pendemo, sudah direalisasikan. Ahok disuruh minta maaf, sudah dilakukan bahkan minta maaf sampai berkali-kali melalui media. Ahok disuruh untuk diproses secara hukum, juga sudah dilakukan dan masih dalam proses, bahkan Ahok langsung datang ke Bareskrim Polri tanpa dipanggil untuk memberikan keterangan. Tuntutan agar Istana tidak mengintervensi penanganan kasus Ahok juga sudah dilakukan, Presiden Joko Widodo sudah menegaskan tidak akan mencampuri proses hukum Ahok di Bareskrim Polri.

Masih kata dia, jika dilihat dari sisi politik, maka tidak bisa dipungkiri tujuan utama aktor-aktor politik menunggangi demo 4 November adalah mengupayakan supaya Ahok batal atau kalah pada pencalonan Gubernur. terdapat dua kemungkinan hasil keputusan dari proses hukum yang di terima Ahok: yang pertama Ahok dianggap bersalah dan di jadikan tersangka atau yang kedua Ahok dianggap tidak bersalah dan di bebaskan dari tuduhan yang ditujukan kepadanya.

“Ahok dianggap bersalah dan di jadikan tersangka. Keputusan ini tidak serta merta akan menggugurkan AHOK dari calon gubernur, karena salah satu syarat untuk menggugurkan AHOK dari calon gubernur adalah adanya keputusan tetap dari pengadilan,” bebernya.

Kata dia, keputusan tetap ini butuh proses panjang, karena harus sidang di pengadilan, belum lagi jika ada upaya banding dari masing-masing pihak. terlepas dari lamanya proses hukum yang dilalui, menjadikan ahok sebagai tersangka karena desakan dan seakan-akan hasil paksaan dari beberapa pihak.

“Ini akan membuat Ahok seperti “DIKRIMINALISASI”,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *