Ketum KNPI Putri Khairunnisa: Demi Kebergunaan KNPI

by -87,588 views

Oleh : Putri Khairunnisa
Ketua Umum DPP KNPI Periode 2022-2025

Semangat catatan ini adalah dalam rangka menyelam lebih dalam terhadap nilai nostalgia bulan sejarah keindonesiaan kita. Bulan deklarasi ‘Sumpah Pemuda’ 1928 sebagai bentuk perang rakyat semesta melawan agresi. Peristiwa cikal bakal terlepasnya bangsa nusantara (tanah jajahan) dari keterjajahan para kolonial.

Pergerakan para pemuda yang pada awalnya masih terbungkus gagasan-gagasan solidaritas yang bersifat etnis atau batas primordialisme kedaerahan. Kemudian akhirnya mampu terorganisir melebur dan mengkristalisasikan diri ke dalam rasa sebangsa dan setanah air satu Indonesia Raya.

Nostalgia bulan pergerakan patriotiknya pemuda terdahulu kali ini, saya harap berbuah transformasi pada hal yang sangat krusial. Yakni suatu gagasan, solidaritas serta patriotisme pemuda yang lebih besar. Refleksi HSP ini, tak hanya semata-mata menginspirasi moral, apalagi sekedar seremonial belaka. Melainkan sumbangsih pemikiran, peran kontribusi dan karya porsinya perlu ditambah.

Dan terutama momentum perayaan hari sumpah pemuda kali ini pula, saya ingin kembali mengajak (otokritik), berharap ada kita kesamaan semangat persatuan merumuskan kembali kebergunaan rumah besar pemuda Indonesia, KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Merangsang semangat kita untuk bersatu dan lalu kembali melakukan fungsi strategis KNPI.

Determin kebesaran sejarah organisasi KNPI sebagai wadah berhimpun organisasi kepemudaan yang berperan aktif melahirkan ide ,gagasan untuk kemajuan bangsa, itu kini kepeloporannya sedang mengalami distorsif, krisis, kemerosotan atau menganggur dari eksistensinya. Lantaran egoistik personal orang per orang yang membuat KNPI terjebak pada kondisi perpecahan (dualisme-trialisme).

Tepat di bulan pemuda, saya berharap pertumbuhan kembali kepeloporan KNPI yang membanggakan, semangat kegunaannya seperti juga yang telah diikrarkan pemuda di kala membacakan ‘Sumpah Pemuda’. Saya menuntut kaum muda yang ber-KNPI hari ini punya perasaan sama seperti saya yang prihatin terhadap kondisi terbelahnya KNPI yang tak kunjung usai atau terobati. Untuk apa? Agar kita tidak melanjutkan tradisi dosa.

Titik Pijak
Seperti meteor, kesempatan langka, seakan semesta kepemudaan menerima pancaran matahari. Pada tanggal 8 – 9 Juli 2022 lalu di Ancol Jakarta, Kongres XVI diselenggarakan. Paling pokok disini, Kongres XVI Ancol adalah momentum berpindah tangannya atau alih generasi yang mengandung makna transisi yang tak dielak lagi.

semngat KNPI Kongres XVI Ancol saya mesti maknai sebagai bahan bakar, peralatan atau helaan napas baru bagi KNPI untuk bertransisi. Kongres XVI di Ancol, momentum emas permulaan kembali kehidupan baru KNPI, itu poin pentingnya.

Sebab, apa manfaatnya keberadaan Komite pemuda ini bagi bangsa dan negara jika terus terjebak pada situasi konfliktual internal. KNPI terkungkung dalam dinamika yang unfaedah, sekaligus memberi bukti, benar yang namanya pemuda kekinian tidak cakap menyelesaikan konflik? Bukannya begitu terkesannya?

Kenyataan yang mendesak saya dan seluruh pemuda indonesia untuk segera merumuskan formula, meretas jalan konsensus agar KNPI tidak semakin larut pada fragmentasi konflik. Saya ingin mengembalikan kehormatan KNPI yang telah dicatat sejarah.

Meminjam adagium Bung Hatta, “tidak di bagi-bagi”! Saya sendiri tercerahkan, lantas adagium ini saya ingin transmisikan kepada KNPI, organisasi yang menyatukan para segenap komponen-komponen kawula muda seantero nusantara untuk sepakat meneguhkan sikap yang sama.

Komitmen atau spirit saya akan menghadirkan konsensus, dari yang berbeda-beda menjadi satu keutuhan, terutama meniscayakan segala ruang dan waktu agar KNPI tidak lagi di bagi-bagi. Embrionya menyegarkan kembali ikrar kepemudaan demi mengangkat kembali harkat dan martabat KNPI, seperti juga romantika konsensus bersama pemuda lampau. Bergerak dan berusaha sedekat mungkin dengan segala utopia-utopia keumuman.

Berpijak pada ingin terciptanya keharmonisan, saya mau menjadi jembatan penyeberangan antar kubu yang berseteru untuk bersatu. Saya ingin bermanfaat bukan hanya untuk pengurus DPP KNPI, urun-rembuk keharmonisan serupa dilakukan secara nasional.

Sesuai UU Kepemudaan
Didapuk sebagai Ketum baru yang menahkodai KNPI, hari yang penuh sejarah bagi saya personal. Sebab bagaimana tidak, untuk pertama kalinya dalam sejarah perempuan perdana terpilih menjadi orang nomor satu di DPP KNPI, tentu saja raihan yang di nanti-nantikan oleh kaum perempuan lainnya.

Yang paling penting dalam konteks etis organisasi, terpilihnya saya harusnya mengubah nuansa periodesasi kepemimpinan generasi tua yang meskipun secara biologis sudah bukan lagi pemuda. Alih generasi yang membebaskan tradisi menahun secara teoritik organisatoris usianya jelas-jelas telah kadaluarsa namun masih (menjajal tempat) kaum muda di KNPI.

Mengapa demikian saya tegas soal usia, agar tidak lagi dikotomis. Sebab semua tahu dari sudut stratifikasi atau kategorisasi pemuda, usia tau ber-KNPI merupakan penyimpangan Hukum. Tidak sesuai dengan Undang – Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.

Harapan KNPI bertransisi harus dilihat secara objektif dari pemahaman terminologis Hukum tersebut, bukan karena “kebagian kue” atau berdasarkan “tiupan angin dan ayunan ombak”. Yakni emosionalitas terdahulukan sementara semangat yang rasionalitas dibelakangkan.

Aspek lain kemudian yang perlu diperbaiki agar KNPI tidak mengalami degradasi Yakni pemerintah didesak agar mengambil tindakan tegas mencabut pengabsahan legalitas kepengurusan KNPI yang tidak sesuai dengan prosedur Hukum. Pemerintah tak ada alasan “plintat-plintut” terhadap penyelewengan konstitusi kepemudaan tersebut. Maka dari seluruhnya usaha ini, kesia-siaan lain pihak-pihak yang menyengketakan perjalan KNPI, kita boleh hitung peluangnya.

Kesepahaman
Saya ingin menguatkan gagasan selain jalan kesadaran Hukum dan kolektif kejernihan atau keterbukaan pikiran di atas, mempertajam konsep, skenario atau ini semacam proposal penyatuan menggunakan metode Kongres? Alhasil, pembenahan apapun pilihan penyatuan untuk menjawab kebuntuan persoalan-persoalan KNPI. Yang terpenting merupakan model gerakan yang bertahap, progresif disertai dengan proses musyawarah yang bertujuan kesepahaman mendasar. KNPI bertransisi harus dilihat secara objektif dari pemahaman terminologis.

Formulasi yang jelas bersih dari terkooptasi friksi-friksi KNPI versi satu, dua atau yang lainnya. Tidak menempatkan kelompok-kelompok yang saling berhadapan (vis a vis). Penyatuan menekankan pendekatan rekonsiliasi atau kekuatan sebagai modal utama yang berorientasi pada kejayaan kembali KNPI. Semangat yang hadir adalah sebagai unit-unit pengurus dari semua KNPI, dan kompensasi seluruhnya mendapatkan tempat.

Dalam proses merealisasikan, totalitas dan kesadaran bersama merupakan segmen utama. Semua memiliki korelasi tanggung jawab, tidak jalan sendiri-sendiri. Jika ditanya siapa aktor, agen atau mesin yang menggerakkannya? Begitu ditanya seperti itu ekspresi kita seharusnya langsung kembali kepada senjata spiritual yakni basis Kerjasama dan kesepahaman.

Saya menyudahi catatan ini dengan menegaskan, refleksi Hari Sumpah Pemuda tidak sekedar seremonial belaka, riuh hanya dalam narasi-narasi besar, tetapi nilai sejarah kepeloporan persatuannya sama sekali tidak tercermin, ironi kita usai bicara persatuan lantas kembali pecah.

Saya ingin mengadaptasi pesan (Cebolb, 1970) menyatakan, “Manusia membuat sejarah mereka sendiri, tidak membuatnya sesuka hatinya. Tak membuatnya dalam situasi yang dipilihnya sendiri, tetapi dalam keadaan yang langsung dihadapi, diberikan dan dikirimkan dari masa lalu”.

Kedalaman nilai diktum dari Cebolb ini, cocok atau perlu dikhayalkan oleh semua khalayak pemuda yang sarat dengan posisi sebagai lapis generasi pewaris kelangsungan hidup bangsa. Terutama direnungkan bagi yang “membagi-bagi” KNPI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *