Para Tokoh Sulbar Ajak Masyarakat Waspada Paham Ektremis di Tengah Transisi Darurat Bencana

by -234,379 views

MediaSiber.com – Salah satu upaya untuk menjaga kebinnekaan di Indonesia adalah menjalankan agama yang moderat. Apalagi di tengah situasi bangsa di mana ada beberapa kelompok masyarakat berbasis agama tertentu yang merasa ingin mengeklusifkan diri dengan menafikan perbedaan yang ada.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Muhammad Nasir. Ia menyebut bahwa moderasi beragama adalah salah satu ikhtiar bangsa hidup rukun.

“Moderasi beragama sendiri memiliki tujuan untuk menciptakan kehidupan harmonis, rukun dan damai dalam perbedaan,” kata Nasir dalam webinar dengan tema “Komitmen Menjaga Moderasi Beragama pada Masa Transisi Darurat Bencana di Sulbar” pada hari Sabtu (24/4/2021).

Ia juga menyebut, bahwa bencana sosial bisa muncul ketika ada sekelompok masyarakat tertentu yang ingin mengimplementasikan pemikirannya lewat jalur kekerasan.

“Paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan dapat membawa ancaman kehidupan dalam keberagaman atau moderasi beragama,” jelasnya.

Namun untuk menciptakan moderasi beragama yang masif di kalangan masyarakat, tentu memerlukan peran aktif para tokoh agama untuk memberikan pendidikan kepada warga sekitarnya.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Barat (Kakanwil Kemenag Sulbar), Muflih B. Fattah. Ia menyebut jika pihaknya sudah melakukan langkah-langkah konkret untuk sosialisasi kepada para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menyebarkan pesan-pesan moderat.

“Para penyuluh agama dan stakeholder lainnya telah kami berikan pembinaan dan tugas untuk menyebarkan pesan-pesan moderasi beragama dengan harapan terbangun harmonisasi keagamaan di Sulbar,” kata Muflih.

Dan yang tak kalah penting menurutnya adalah bagaimana masyarakat bisa peka terhadap paham-paham radikal yang bisa memicu persoalan baru di kalangan masyarakat.

“Di lain hal perlu adanya kewaspadaan terhadap aliran-aliran radikal ekstrimisme yang bisa masuk di Sulbar dan mengganggu keutuhan bangsa dan negara,” sambungnya.

Masih di dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulbar, Adnan Nota juga memberikan atensi terhadap misi kemanusiaan yang ada di wilayah Sulbar khususnya pasca peristiwa bencana alam di wilayah tersebut.

Tidak mungkin instansi negara membatasi akses bantuan yang diberikan dari pihak manapun kepada masyarakat yang memang sedang membutuhkan bantuan pasca mengalami musibah gempa bumi itu.

Melalui pintu ini, menurut Adnan, bisa sangat rentan paham ekstremisme masuk dan mempengaruhi masyarakat sekitar.

“Penanganan gempa di Sulbar adalah perang terbuka sejumlah ideologi, karena tidak ada pihak yang dapat melakukan pelarangan untuk dapat memberikan bantuan terhadap korban gempa, dikhawatirkan dengan cara ini akan sangat mudah aliran-aliran atau ideologi ekstremisme untuk masuk dan menyebarkan ideologi masing-masing yang dianut kepada para korban gempa dan terbentuk sentimen agama yang mempengaruhi masyarakat untuk melakukan tindakan ekstrimisme,” jelas Adnan.

Terlebih lagi, kader muda NU itu menyebut bahwa faktanya sudah ada gerakan ekstremisme masuk ke pemikiran masyarakat khususnya kaum milenial di Kabupaten Mamuju.

“Sasaran kelompok ekstrem adalah para kaum milenial dengan menggunakan pola gerakan Wasathiyah, kelompok ini telah ada di Kabupaten Mamuju dengan dalih membangun lembaga pendidikan,” ujarnya.

Oleh karena itu, langkah yang paling tepat untuk mengikis paham radikal dan ekstrem ini harus dilakukan sosialisasi moderasi beragama secara masih di wilayah tersebut.

“Untuk mengantisipasi dampak yang tidak diinginkan dari tujuan kelompok tersebut maka dirasa perlu dilakukan penyebaran moderasi beragama utamanya bagi para kelompok milenial,” tuturnya.

Terakhir, Adnan menegaskan jika Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sangat menjunjung tinggi moderasi beragama di Indonesia. Tujuannya adalah agar tercipta masyarakat yang damai dan saling harmonis di tengah perbedaan-perbedaan yang ada.

“NU secara tegas akan memperjuangkan harmonisasi agama dalam bingkai moderasi beragama,” pungkas Adnan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *