Calon Presiden adalah Pelayan Masyarakat Indonesia

by -50,900 views

Oleh: Antonius Benny Susetyo
Doktor Komunikasi Politik dan Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

Pada hari Jumat, 21 April 2023, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. (H.C.) Hj. Megawati Soekarnoputri, menetapkan Ganjar Pranowo, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, sebagai calon presiden (capres) dari partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Pengumuman penetapan dilaksanakan di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat.

Penetapan Ganjar sebagai capres ini banyak menarik perhatian. Pasalnya, sering dikabarkan bahwa Megawati akan menunjuk orang yang ada dalam lingkungan keluarga dan/atau lingkaran dalam. Nama Ganjar memang banyak disebut-sebut sebagai calon presiden, dan Namanya banyak muncul di berbagai survei yang dilakukan menjelang tahun politik 2024 ini; walaupun begitu, Megawati terlihat tidak bergeming ataupun memberikan tanggapan mengenai berita-berita yang beredar.

Masuknya nama Gubernur Jawa Tengah tersebut menambah daftar capres yang diusung oleh partai-partai politik di Indonesia. Adapun setelah Ganjar ditetapkan menjadi capres, beberapa partai politik, seperti PPP dan PAN, yang pada tanggal 2 Mei 2023 dikabarkan sudah resmi mengusung Ganjar. Hal ini disebut-sebut merubah peta koalisi. Diketahui bahwa PAN, PPP, dan Golkar telah membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), dan Golkar sendiri sudah mengusung ketua umumnya, Airlangga Hartanto, sebagai calon presiden.

Di sisi lain, keputusan Megawati untuk mengusung orang yang bukan bagian keluarganya adalah keputusan yang dapat dikatakan mengejutkan. Pasalnya, nama Puan Maharani, yang adalah anak perempuan dari Megawati, sempat santer disebut-sebut akan diusung oleh PDIP. Legitimasinya pun besar: dia adalah cucu dari Soekarno, presiden pertama sekaligus salah satu proklamator kemerdekaan, yang juga adalah perumus dan pencetus dari Pancasila, dasar bangsa dan negara Indonesia.

Menurut saya, disinilah kematangan seorang Megawati sebagai seorang politikus. Untuk dia, politik bukan sebuah dinasti, bukan sebuah pelestarian nama keluarga, tetapi sebuah panggilan nurani, untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan cita-cita proklamasi. Sebagai seorang ketua umum yang selama ini mendirikan dan membesarkan PDIP, Megawati memilih suatu privilege, sebuah kekhususan, sebuah hak khusus, untuk memilih siapapun yang akan menjadi calon presiden partai pimpinannya. Dia bisa saja memberikan posisi tersebut kepada keluarga ataupun orang dekatnya. Tetapi, dia memberikannya kepada Ganjar, karena Ganjar, menurut Megawati, mampu menarasikan cita-cita Soekarno: berdikari, menjunjung tinggi harga diri bangsa dan negara, dan mampu mengangkat harkat bangsa Indonesia. Hal ini juga mengembalikan ingatan masyarakat atas penetapan Joko Widodo sebagai calon presiden tahun pemilihan 2014, dimana Jokowi, sapaan akrabnya, bukanlah orang lingkar dalam ataupun keluarga dari trah Soekarno, tetapi Megawati berani memilih Jokowi.

Ganjar dikenal sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan masyarakat. Ganjar menterjemahkan paham marhaenisme dengan cara modern, melalui media sosial. Ekonomi kerakyatan olehnya diwujudkan dalam kerjasama rakyat dan wirausaha yang dirinya usung. Ganjar sadar akan kemandirian politik Indonesia, bahwa politik luar negeri Indonesia harus berdasarkan hak kemerdekaan setiap bangsa. Ganjar ingin menunjukkan bahwa kedaulatan tidak direduksi oleh keinginan dan pencapaian ekonomi semata; seharusnya, bangsa ini memiliki harga diri dan kedaulatan politik. Dasasila Bandung merupakan dasar bagaimana berpolitik secara bebas dan aktif di kancah perpolitikan dunia, dan Ganjar mempraktekkan hal tersebut. Di bidang kebudayaan, Ganjar menampilkan ekspresi budaya untuk menyatukan keragaman. Dan karena itulah, Megawati memilihnya sebagai capres dari PDIP.

Tahun politik ini diproyeksikan akan benar-benar menguji persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sebagai sebuah negara. Isu-isu yang dapat memecah belah masyarakat diprediksikan akan banyak menghiasi media berita, televisi, dan sosial bangsa Indonesia. Pemilihan tahun 2024 ini pun akan dilaksanakan serentak bersama-sama pada bulan Februari 2024, dan dengan proyeksi-proyeksi diatas, pemilihan harus benar-benar dipersiapkan secara matang.

Para calon pemimpin pun sudah mulai menunjukkan diri, mulai dari calon legislative, sampai kepada calon presiden, dan juga beberapa tokoh sudah disebutkan akan juga menjadi calon wakil presiden. Masyarakat Indonesia akan dimanja dengan berbagai janji-janji politik, supaya memilih para calon tersebut dan melancarkan jalan mereka menjadi pemimpin. Tapi masyarakat patut untuk menyadari bahwa pemimpin yang dibutuhkan leh negara Indonesia bukan hanya seorang pemimpin yang kuat dan berkarisma, tetapi juga seorang visioner, seorang pemimpin yang memiliki visi misi kedepan, yang mampu melihat dan mampu mengangkat martabat Indonesia di mata masyarakatnya dan di mata masyarakat dunia. Pemimpin yang visioner adalah pemimpin yang mampu menjawab zaman. Salah satu contoh yang Indonesia pernah punya adalah Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang biasa dipanggil dengan sebutan Bung Karno. Beliau adalah visioner yang betul mampu mengangkat bangsa Indonesia, dari bangsa yang terjajah, menjadi merdeka dan bergengsi.

Soekarno adalah salah satu contoh pelayan publik. Dia mengamalkan nilai keutamaan politik, yaitu politik bukan untuk memperkaya diri, mendapatkan kekuasaan sebesar-besarnya, dan meraup keuntungan terus menerus. Seorang politikus, dengan meminjam istilah dari Walter Benjamin, harus memiliki dua dimensi politik, yaitu politik yang ilahi dan yang manusiawi. Megawati, dengan kekuasaannya yang luar biasa atas arah partai politik yang dia pimpin, seharusnya mudah saja menunjuk orang dekatnya. Tetapi, Megawati menggunakan kekuasaannya, dengan dimensi politik ilahi, untuk kembali menjalankan keutamaan politik. Bukan hanya karena nama keluarga, ataupun kedekatan personal, tetapi Ganjar dinilainya sebagai orang yang bisa mengembalikan lagi keutamaan politik, menjadi pelayan public, berpihak pada kaum kecil dan menderita, dan mengembalikan juga cita-cita kemerdekaan yaitu mewujudkan masyarakat yang cerdas, sejahtera, makmur, dan memiliki politik yang bebas aktif, untuk menjaga perdamaian dunia.

Yang harus kita ingat dari penetapan Ganjar sebagai capres ini adalah: politik bukan sekedar saya dapat apa, tetapi seorang politikus, seorang pengerja politik, seharusnya sudah melakukan pencapaian atas keinginan dirinya dan mengabdi penuh pada public, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, sebagai hokum tertinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *