Hati-hati Penceramah Wahabi, Tebar Kebencian Lewat Politik Berkedok Agama

by -83,533 views

Malang – KH. Marzuqi Mustamar MAg, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur dan Pimpinan Ponpes Sabilul Rosyad, Gasek, Malang Jawa Timur menjelaskan terkait penceramah Wahabi Salafi.

Penceramah Wahabi Salafi, memiliki banyak cara untuk mempengaruhi masyarakat agar menjadi pengikutnya. Bukan hanya menggunakan dana, kaum Salafi Wahabi juga menggunakan pendekatan simpatik supaya masyarakat bisa percaya pada paham mereka.

“Cara Wahabi mempengaruhi orang bahkan bisa dengan cara sekenanya. Jika bisa dipengaruhi menggunakan fikih maka fikih yang dipakai. Jika bisa dipengaruhi menggunakan aqidah maka akidah yang dipakai.” ungkap KH Marzuqi Mustamar.

Beliau juga menjelaskan bagaimana cara kaum Salafi Wahabi bisa menarik pengikutnya. Bahkan, mereka juga memanfaatkan anggota rakyat.

“Kalau ada orang yang sakit mereka wajib nengok pertama kali. Pertama mungkin dia sendiri, medoakan. Setelah itu sama istrinya, bawa sarung atau bawa gula. Targetnya pertama mereka dianggap baik. Bahkan kalau sampai ke rumah sakit, mereka akan berani nyetop angkot. Masalah uang belakangan, tidak urusan, mereka bisa nelpon kelompoknya yang jadi DPR atau apa,” terang KH.Marzuki.

KH.Marzuki mengatakan bahwa Penceramah Wahabi akan selalu mencari majlis taklim atau acara-acara yang mereka anggap bid’ah dan sesat. Termasuk acara-acara maulid. Tujuan mereka mencari kelemahan. Dan kelemahan itu dijadikan untuk menyerang.

“Kalau ada acara-acara maulid mereka juga hadir. Mereka mencari kelemahan. Digoreng sama mereka,” katanya.

Beliau juga menjelaskan penceramah Wahabi yang menjadi pembicara publik, mereka seolah-olah menerima kritik. Bahkan dia minta dikritik mengenai apa yang telah disampaikan. Dan orang yang mengkritik biasanya akan diberi hadiah. Ini berbeda dengan selain Wahabi. Termasuk pembicara publik (penceramah) dari nahdlyin misalnya.

“Karena mereka punya maksud untuk kaderisasi. Mereka memiliki dakwah, istilahnya dakwah dengan hati. Intinya, mereka dakwahnya kebanyakan bil hal, menggunakan metode, nggak usah banyak bicara. Setiap kadernya dimuhasabah (dikontrol). Sudah tidak berjamaah berapa kali, sudah silaturrahim ke berapa orang,” jelas KH.Marzuki

Kader wahabi secara internal, memiliki bertingkat-tingkat dan berkelas-kelas. Semua tingkatan dikader dan ada panduannya khusus. Semuanya terkontrol. Maka jangan heran bila ada orang wahabi yang hanya baru sedikit tahu dalil namun mereka sudah berani berdakwah dengan dalil tersebut.

”Bagi kader internal, mereka ada metode tarbiyah. Kita akan ketawa (melihat), cuma bisa gini (sedikit dalil) mereka berani ngisi kajian. Mereka sudah dilatih. Kalau saya persentasi aqidahnya mereka paham. Karena sejak masuk sudah dikasih itu. Mereka tidak peduli dengan syariat dulu,” jelas KH.Marzuki.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa tujuan kelompok Wahabi adalah serupa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yakni khilafah ala minhajinnubuwwah, mengembalikan kekhalifahan sebagaimana “manhaj” Nabi Muhammad versi mereka.

“Indonesia bagi mereka thogut, pemerintah Jokowi komunis, Budaya Indonesia syirik” pungkas KH.Marzuki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *