Pentingnya Merawat Kebersamaan Dalam Bingkai Kebhinnekaan Menuju Indonesia Tangguh

by -851 views

Jakarta – Pada saat ini penduduk Indonesia terlalu serius dan digiring dalam merespon fenomena keberagaman. Keseriusan itu pun cenderung mengarahkan ke dalam jurang ekstrimisme salah satu contoh dampak dari keseriusan itu adalah lahirnya momentum 212 dan 412.

“Kita harus banyak belajar dari Gus Dur yang menyikapi sebuah permasalahan dengan guyonan dan tanpa keseriusan sehingga tidak terjadi perpecahan. Di dalam keseharian dunia organisasi kepemudaan pun tidak terlalu serius dalam hal mengkaji sebuah fenomena,” ungkap Staf Khusus Bidang Pemuda Kemenpora RI Zainul Munasichin, saat diskusi catatan akhir tahun mahasiswa dan pemuda Indonesia bertema “Pentingnya Merawat Kebersamaan dalam Bingkai Kebhinnekaan Menuju Indonesia yang Tangguh” yang diinisiasi Youth Movement Institute (YMI) di Resto Balphus Jaktim, Senin (19/12/2016).

Selain Zainul, diskusi yang dipandu Ketua LDHKMI Andi Muhammad Adhim itu juga dihadiri Dosen kalbis Filsafat Etika dan Religiusitas M. Kasyfi Arsyan, Ketua Presidium GMNI Chirsman Damanik, Presidium Lima-PJ Reza Malik, Bidang Pendidikan GDHDI РGrand Design Hindu Dharma Indonesia NLG Vivin Sania Dewi.

Menurut Zainul, masyarakat cenderung terpengaruh dengan propaganda oposisi biner yakni hanya diberi 2 macam opsi dalam menentukan pilihan. Dunia oposisi biner itu cuma ada hitam dan putih. Seperti yang terjadi di negara Timur Tengah, paham Islam hanya diberi dua pilihan yaitu Syiah dan Sunny namun yang terjadi justru kekacauan dinegara tersebut.

“Begitupun di Amerika, yang hanya terdiri dari 2 parpol. Sehingga untuk menguasai negara yang oposisi biner itu sangat gampang. Cukup memegang kepala dari kedua pilihan tersebut, atau kedua paham dan parpol tersebut,” tuturnya.

Lebih lanjut, Zainul mengaku beruntung sebagai bangsa Indonesia hidup yang majemuk terdiri dari banyak partai, banyak OKP, dan kelompok-kelompok, sehingga sulit untuk menguasai tanah air. Karena harus melakukan loby-loby di seluruh kelompok yang ada. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Wahid Institute, menemukan sejumlah data yang cukup mengkhawatirkan. Dari total 1.520 responden sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci. Kelompok yang dibenci itu meliputi mereka yang berlatar belakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan lainnya.

Sebanyak 7,7 persen yang bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal. Namun meski hanya sebesar 7,7 persen, persentase tersebut cukup mengkhawatirkan. Sebab persentase tersebut menjadi proyeksi dari 150 juta umat Islam Indonesia. Artinya jika diproyeksikan, terdapat sekitar 11 juta umat Islam Indonesia yang bersedia bertindak radikal.

“Bisa kita bayangkan ada sekitar 11 juta orang yang bersedia bertindak radikal. Jadi kita tidak boleh asal mem bid’ah dan melakukan sentimen keagamaan,,” sebut dia.

Dia pun merasa khawatir jika kelompok-kelompok ekstrim itu sudah tidak menggunakan cara inkonstitusional dalam menjalankan aksinya. Tapi dengan cara konstitusional dan demokratis. Contohnya dengan lahirnya beberapa regulasi-regulasi yang mengarah ke aturan islam radikal. Namun, lanjut dia, pihak Menpora pun tidak hanya tinggal diam, bersama-sama dengan OKP, dan kelompok mahasiswa serta kepemudaan lainnya untuk meminimalisir kelompok-kelompok ekstrim radikal.

“Kemenpora pun akan melaksanakan program kirab santri di kurang lebih 42 Kabupaten diseluruh Indonesia yang puncak acaranya di Solo. Kesimpulannya, untuk merawat kebinnekaan, kita harus pahami bahwa kita ini dalah orang Indonesia yang kebetulan lahir dan diberikan amanah oleh Tuhan untuk beragama Islam. Bukan sebagai Islam yang kebetulan lahir di Indonesia,” ujarnya.

Pancasila Karakter Kebhinnekaan, Musuh Utama adalah Oknum Yang Rubah Falsafah Negara

Ketua Presidium GMNI Chirsman Damanik mengaku persoalan tataran kebhinnekaan di Indonesia sudah lah selesai sebab 71 tahun yang lalu, persatuan para pemuda diseluruh Indonesia seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Abon, dan Jong Jong yang lain bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia

“Pancasila merupakan karakter dari kebhinnekaan dan keberagaman msyarakat Indonesia. Jadi apabila ada oknum-oknum tertentu yang ingin merubah falsafah negara dan Dasar Negara kita, maka dialah musuh utama kita saat ini,” cetusnya.

Chirsman menekankan Indonesia tidak hanya terdiri dari satu agama saja, tidak hanya terdiri dari satu suku, kelompok, dan bahasa saja. Jadi perlu merawat keberagaman ini, karena hal inilah yang menjadi kekuatan utama NKRI.

“Karena pada dasarnya Indonesia lahir dari keberagaman. Jangan sampai terjadi lagi kasus-kasus yang memungkinkan untuk memecah belah kita, seperti kasus Singkil, Tanjung Balai, dan baru-baru ini yang terjadi di Bandung dimana rekan kita dihalangi untuk melakukan ibadah,” sesalnya.

Dikatakan dia, saat ini toleransi dan intoleransi sedang diuji. Seperti halnya dalam membantu orang yang sedang kesusahan masih saja bersikap intoleran. Sehingga perlu kembali memahami dan mempelajari Pancasila secara mendalam, agar semua kembali sadar akan pentingnya merawat keberagaman dan sikap toleransi dalam diri.

“Jadi kita perlu memupuk kembali sikap toleransi dalam diri kita,” sebut dia.

Kebhinnekaan Membuat Keindahan

NLG Vivin Sania Dewi menyebutkan pada dasarnya kebhinnekaan adalah sifat alami di alam, misalnya pelangi, rumput yang beraneka ragam, jenis bunga, dll. Kebhinnekaan membuat indah dan semua manusia menyukai keindahan.

“Pada dasarnya manusia senang yang berwarna-warni atau kebhinnekaan,” katanya.

Kata dia, kebhinnekaan justru kekuatan bila saling menghargai. Bangsa Indonesia sejak awal beraneka ragam, dalam hal suku, agama kebudayaan, warna kulit, justru dengan warna-warninya membuat Indonesia semakin kuat. Kekuatan itu lah dibingkai oleh sejarah Indonesia saat memproklamasikan diri sebagai sebuah negara pada 17 Agustus 1945 dan diikat oleh falsafah negara yaitu Pancasila dan UUD 1945.

“Cara merawat kebhinnekaan adalah menerima fakta bahwa perbedaan itu adalah sesuatu yang alami,” tuturnya.

Selanjutnya, tambah dia, kondisi riil bangsa Indonesia sekarang adanya upaya-upaya sekelompok orang yang berniat mengganti dasar negara Pancasila, mengganti preambul atau pembukaan UUD 1945, kondisi ini adalah langkah mundur sebagai bangsa. Oleh karena itu kewajiban semualah sebagai anak bangsa untuk menjaga utuhnya Indonesia yang dilandasi Pancasila dan UUD 1945 agar tetap menjadi bangsa kuat dan tangguh.

“Siapapun yang berusaha merongrong keutuhan kita sebagai sebuah bangsa harus kita lawan dan hadapi bersama. Hargai kearifan budaya Nusantara,” jelasnya.

Pemersatu Masyarakat Beragam adalah Toleransi

Dosen Kalbis Filsafat Etika dan Religiusitas M. Kasyfi Arsyan menilai untuk mempersatukan masyarakat yang beragam, perlu adanya toleransi yang tinggi antar kebudayaan. Sikap saling menghargai antargolongan, mengenali dan mencintai budaya lain adalah hal yang perlu dibudayakan.

“Keberagaman masyarakat merupakan modal dasar dalam pembangunan bangsa,” ucap Arsyan.

Sementara itu, kata Arsyan, inti dari permasalahan kebhinnekaan ini adalah terjadinya beberapa hal yang sesungguhnya dapat memecah belah yaitu fenomena seodonasionalisme dimana nasionalisme sebenarnya belumlah sempurna yang akhirnya mengarahkan ke seododemokrasi yakni menganggap negara Indonesia demokratis, namun sebenarnya tidak demokratis.

“Sebenarnya bangsa adalah suatu komunitas yang sudah terbayang. Dimana founding father kita, sudah membayangkan bentuk dan tatanan bangsa tersebut,” katanya.

Selain itu, lanjut Arsyad, permasalahannya adalah memiliki faham nasionalisme masing-masing bersasarkan kelompok-kelompok yang ada. Anggapan bahwa diri masing-masing tersebut selalu benar merupakan musuh utama yang dapat memecah belah kebhinnekaan kita.

“Jadi perlu adanya rasa berkemakluman. Atau kita harus lebih sering memaklumi apa yang terjadi disekitar kita. Dengan demikian maka akan terjadi kedamaian dan kerukukan sesama ummat. Kita tidak boleh terus larut dalam euphoria beragama. Karena hal itu dapat menimbulkan egoisme dalam setiap komunitas. Seperti yang terjadi saat ini, lahirnya gerakan-gerakan 212 dan 412,” terangnya.

Perbedaan Membuat Bangsa Semakin Kuat

Presedium LIMA-PJ Reza Malik membeberkan perkembangan terakhir telah menunjukkan pada semua pihak bahwa sejumlah konflik sosial dalam masyarakat telah berubah menjadi destruktif bahkan cenderung anarkhis. Mulai dari ksus Ambon, Poso, Maluku, GAM di Aceh, dan berbagai kasus yang menyulut kepada konflik yang lebih besar dan berbahaya.

“Bangsa kita merupakan bangsa dengan banyak golongan, seharusnya ini menjadikan bangsa kita yang kuat karena banyak perbedaan dan golongan. Lalu kenapa masih banyak yang berselisih faham satu sama lain? ,” ungkap dia.

Menurut Reza, hal itu dikarenakan tidak adanya rasa saling menghargai dan memiliki satu sama lain. Obyek untuk dibudi luhuri adalah seluruh lapisan masyarakat baik kelembagaan maupun perorangan, pejabat maupun masyarakat biasa, keluarga maupun bukan keluarga, kalangan muslim maupun non muslim, lingkungan, alam semesta dan semuanya yang beinteraksi secara sosial dengan semua.

“Hal ini tercermin dari ungkapan bahwa budiluhur tidak hanya mengikuti aturan agama, tapi juga menetapi aturan perundangan dan norma serta etika yang berlaku dalam masyarakat yang merupakan aturan yang dibuat oleh manusia untuk mengatur ketertiban di lingkungannya,” ucap Reza.

Dengan demikian secara umum, sambung dia, apabila seseorang/sekelompok orang/lembaga melaksanakan konsep budiluhur, maka akan memberikan dampak dan kontribusi yang positif kepada masyarakat dan lingkungannya sehingga akan terbangun pula citra yang positif.

“Dengan kata lain jika dalam kehidupan bermasyarakat terbangun citra yang negatif, maka perlu dilakukan mawas diri, barangkali ada ucapan/sikap/perilaku yang tidak budiluhur atau budiasor,” tuturnya.

Kenali dan Cintai Budaya Lain

Presidium YMI Ismail Putera menjelaskan untuk mempersatukan masyarakat yang beragam, perlu adanya toleransi yang tinggi antarkebudayaan. Sikap saling menghargai antargolongan, mengenali dan mencintai budaya lain dengan cara pengenalan budaya adalah hal yang perlu dibudayakan.

“Kemajemukan dan multikulturalitas mengisyaratkan adanya perbedaan. Bila dikelola secara benar, kemajemukan dan multikulturalitas menghasilkan energi hebat. Sebaliknya, bila tidak dikelola secara benar, kemajemukan dan multikulturalitas bisa menimbulkan bencana dahsyat,” kata Ismail.

Akhir-akhir ini, kata dia, intensitas dan ekstensitas konflik sosial di tengah-tengah masyarakat terasa kian meningkat. Terutama konflik sosial yang bersifat horisontal, yakni konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat, meskipun tidak menutup kemungkinan timbulnya konflik berdimensi vertikal, yakni antara masyarakat dan negara. Konflik sosial berbau SARA (agama) ini tidak dianggap remeh dan harus segera diatasi secara memadai dan proporsional agar tidak menciptakan disintergrasi nasional.

“Realitas empiris ini juga menunjukkan kepada kita bahwa masih ada problem yang mendasar yang belum terselesaikan,” bebernya.

Dia menambahkan Indonesia yang terdiri dari berbagai budaya, suku, adat istiadat dan bangsa, menjadikan Indonesia menjadi negara yang heterogen.

“Keanekaragaman tersebut perlu disatukan agar tercipta Indonesia yang utuh yang tidak tercerai berai dengan keanekaragaman tersebut,” tutup dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *