Demo 4 November Bentuk Kemunduran dan Perpecahan Umat

by -615 views

Jakarta – Ketua Forum Komunikasi Ulama dan Masyarakat (Forkum) Gus Sholeh MZ menyatakan bahwa Isu SARA merupakan hal yang sangat sensitif. Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena lemahnya etika dan moral rakyat Indonesia.

“Bangsa kita sering terjadi konflik, bahkan ini siap untuk di korbankan, ini karena tidak mamaknai etika dan moral,” kata Gus Sholeh dalam orasinya pada saat menggelar Deklarasi Indonesia tanpa diskriminasi di Gedung Perwari Jalan Menteng Raya Jakarta Pusat, Jumat (28/10/2016).

Selain itu, Gus Sholeh mengajak semua komponen bangsa Indonesia agar menjaga kerukunan serta bersatu untuk melawan kelompok-kelompok yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia. “Kita akan tetap menjaga kerukunan, dan siap menjaga negara ini dari mereka yang akan meluluh lantakan Indonesia,” katanya.

Dalam memperingati Sumpah Pemuda Gus Sholeh tidak menginginkan jika nilai-nilai historis pada Pemuda mulai melebur. “Nilai-nilai historis pada Pemuda sudah mulai menipis,” ujarnya.

Oleh karenanya, Gus Soleh berharap agar nantinya Pemuda bisa mengimplementasikan makna dari sumpah pemuda.

“Semoga apa yang kita reflesikan sumpah pemuda ini tidak berhenti pada forum ini,” tuturnya.

Pemerintah Diminta Tumpas Kelompok Anti NKRI

Sementara itu, Sekjend DPP Thoriqoh JATMI KH Miftahul Falah mengatakan sesungguhanya momentum sumpah pemuda kali ini adalah ada sesuatu yang baru, yakni pas bertepatan dengan suasana Pilkada DKI 2017. Miftahul pun menegaskan kelompok-kelompok yang anti NKRI sebenarnya jumlahnya relatif sedikit dibanding pro NKRI.

“Jadi kita berharap kepada pemerintah untuk menumpas kelompok-kelompok seperti itu,” ucap dia.

Miftahul memandang melihat suasana saat ini nampak jelas ada kepentingan politik dibalik demo 4 November. Dia mensinyalir ada pihak ketiga yang ingin merubah sistem negara Indonesia.

“Soal keragaman kita, negara memberikan kebebasan beragama, negara tidak pernah memberikan batasan tapi dalam sisi bangsa kita. Indonesia adalah milik kita,” sebutnya.

Karena Pancasila, Kita Harus Bangga dengan Indonesia

Sejumlah elemen santri, mahasiswa, pemuda, LSM, Islam moderat mengikrarkan “Indonesia Damai Tanpa Diskriminasi”. Dalam ikrar itu ada lima point strategis yang dideklarasikan diantaranya adalah; menolak segala bentuk perilaku diskriminatif serta intoleran karena dapat memecah keutuhan bangsa, seruan menjauhkan lembaga juga majelis keagamaan dari tindak kebencian serta provokasi konflik antar agama.

Nova Andika dari Baitul Muslimin Indonesia dalam orasinya menyatakan momentum sumpah pemuda hari ini menjadi titik kembalinya tekad kesatuan Tanah Air, Bangsa, bahasa Indonesia yang tidak menarik-narik agama, suku/ras sebagai modal besar RI maju dalam memenangkan persaingan dunia.

“Kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia yang memiliki tanah, tempat tinggal ketimbang warga Suriah, Irak bahkan Turki yang terusir dari negaranya karena konflik Mazhab serta aliran agama, itu karena Pancasila yang kita miliki”, tegas Nova.

Menurut Nova jika rencana aksi demo massa besar-besaran jilid ke II pada Jumat 4 November 2016 terjadi, maka itu bentuk kemunduran serta menyulut perpecahan, sehingga umat muslim yang cinta damai, perlu mengutuk keras rencana aksi massa yang menyeret-nyeret isu beda agama dalam Pilkada DKI yang dibungkus dalam tuduhan penistaan agama oleh non muslim.

“Negara harus melindungi segenap tumpah darah bangsa Indonesia,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *