Pesantren Harus Jadi Pelopor Pilih Pemimpin Amanah dan Fathonah

by -195 views

MediaSiber – Ulama Garut, Kiyai Raden Idad Ahmad Yasid Khudori menilai peran serta para santri, ustadz dan ulama dalam mensukseskan proses demokrasi sangat penting. Apalagi salah satu tugas pesantren adalah merawat demokrasi yang baik di Indonesia.

“Pesantren dan kepemerintahan itu erat kaitannya. Karena di pesantren khazanah terkait kenegaraan dikaji, seperti kitab as-sultoniyyah dan lain-lain. Maka Pesantren wajib terlibat dalam mensukseskan demokrasi di Indonesia,” kata kiyai Yasid dalam keterangannya dalam diskusi pemuda bertemakan “Peran Pesantren Menjadi Uswatun Hasanah dalam membangun jabar yang bermartabat” di Pondok Pesantren Almubarokah, Desa Sukawening, Kecamatan Sukawening, Garut, Jawa Barat, Kamis (22/2/2018).

Namun demikian, ia mengingatkan agar para santri juga ikut memilih pemimpin agar mereka juga mendapatkan pemimpin yang tepat.

Baginya, pemimpin yang tepat adalah pemimpin yang memiliki empat sifat utama, yakni Siddiq alias benar ketika bersikap dan berbicara, Amanah alias mampu dipercaya, Tabligh alias dapat menyampaikan risalah dan amanat yang tepat, serta Fathonah alias cerdas.

Hanya saja yang menjadi catatan pentingnya adalah, para santri dan lingkup pesantren harus mampu terlibat dalam upaha mensukseskan pesta demokrasi tersebut tanpa adanya pelanggaran-pelanggaran berarti.

“Pesantren harus berpartisipasi demi memilih pemimpin. Namun tetap menjaga aturan-aturan yang berlaku agar tidak bersifat provokatif,” tuturnya.

Pun demikian, Kiyai Yasid juga meminta kepada para ulama dan ustadz untuk ikut membimbing masyarakat khususnya bagi para pemilih aktif agar bisa cerdas dalam mencari pemimpin.

“Saran dari saya, giring masyarakat kepada agama. Caranya belajar kembali pada pesantren ataupun pengajian-pengaian yang ustad nya terpercaya. Karena memilih pemimpinpun itu diajarkan dalam agama,” tegasnya.

Pesantren jadi pelopor

Lebih lanjut, Kiyai Yasid mengatakan bahwa pesantren harusnya menjadi pelopor dalam persoalan politik nasional.

“Pesantren harus jadi konseptor dan pelopor, bukan mengekor. Menjadi pengais bukan pengemis. Perintis bukan pewaris. Menjadi penggerak bukan penggertak. Merangkul bukan memukul,” tuturnya.

Dan bahkan Kiyai Yasid mengatakan jika ada calon Kepala Daerah yang “sowan” ke pesantren agar tetap dibukakan pintu.

“Jika ada calon yang mau minta restu, sebetulnya bagus. Karena ini menjadi kesempatan bagi pihak pesantren untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi,” kata Kiyai Yasid.

“Dan ketika sudah jadi, saya harap silaturahmi umaro ke ulama itu harus berlanjut, karena ulama bisa menjadi penasehat baginya,” tukasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *