Cendekiawan Versus Khalayak dalam Kontestasi 2024

by -356 views

Sebelum hari pencoblosan dan KPU belum menghitung perolehan suara secara manual, cendekiawan masih bersua lantang dan didengar. Tetapi setelah perhitungan secara cepat bekerja dan hasilnya sudah terlihat suara lantang itu berubah menjadi gerundelan.

Karena dalam pemilu pilihan langsung suara seorang cendekiawan sama nilainya dengan suara orang awam. Suara khalayak ramai, yang berteriak dan bertepuk tapi jarang berpikir nilainya sama dengan seorang cendekiawan. Begitulah aturan main dalam demokrasi.

Padahal derajat orang berpikir dengan orang yang hanya biasa bersorak, jelas berbeda. Tetapi dalam konteks politik pemilihan langsung, suara seorang tukang sapu pinggir jalan sama nilainya dengan kaum intelektual dalam sistem demokrasi pilihan langsung.

Suara kaum cendekiawan sama dengan kelompok tukang ojek. Padahal Lewis Coser mengatakan bahwa cendekiawan adalah orang-orang yang kelihatannya tidak pernah puas menerima kenyataan sebagaimana adanya. Kaum cendekiawan selalu mempertanyakan kebenaran yang berlaku pada suatu saat, dalam hubungannya dengan kebenaran yang lebih tinggi dan lebih luas.

Tetapi suara cendekiawan yang tegak lurus dengan kebenaran itu dalam pemilu terasa mampet.

Mampetnya itu karena aturan main seorang yang terpelajar sama nilai dan bobotnya dengan yang tidak mengenal sekolah atau tamatan sekolah dasar. Itulah demokrasi yang kita pilih dalam menentukan seorang pemimpin. Walaupun prosesnya mengandung kecacatan karena ada batas yang dilanggar, sepanjang tidak melanggar hukum dan berlaku sah, maka tidak ada masalah.

Peran cendekiawan dalam pemilu 2024 terasa kuat ketika belum terjadi hari pemilihan. Walaupun setelah selesai pemilihan dan terjadi pergantian presiden kaum cendekiawan berperan lagi. Perannya bisa ada dalam kekuasaan atau di luar kekuasaan. Bisa menjadi penyokong pemerintah bisa menjadi pengritik pemerintah. Menjadi oposisi yang tangguh yang menyodorkan alternatif dalam berbagai model.

Pandangan dan peran cendekiawan seperti yang dirumuskan oleh Edward Shils bahwa kaum cendekiawan setelah kontestasi berakhir masih tetap mengajukan kebenaran hakiki, karena orientasi hidupnya mengabdi pada nilai-nilai kebenaran.

Menurut Edward Shils, kaum cendekiawan orang-orang yang mencari kebenaran, mencari prinsip-prinsip yang terkandung dalam kejadian-kejadian serta tindakan-tindakan, atau dalam proses perjalinan hubungan antara Pribadi (the Self) dan Hakekat (the Esensial) baik hubungan yang bercorak pengenalan (cognitive) penilaian (appreciative) atau pun pengutaraan (expressive). (CENDEKIAWAN DAN POLITIK halaman 143 – 144)

Pandangan dan peran cendekiawan itu oleh Shils diletakkan dalam perspektif yang lebih luas. Memang cendekiawan sama nilai dalam suara sistem pemilu one man one vote, tapi keberlasungan peran cendekiawan tidak sama dengan khalayak umum.

Sistem pemilihan umum yang terus diselenggarakan setiap lima tahun, walau pun dikritik tidak bisa menghasilkan pemimpin yang berkualitas seperti harapan kaum cendekiawan tetapi dipandang sudah oke oleh khalayak pemilihnya. Rakyat merasa dihargai partisipasinya dalam pemilu pilihan langsung. Rakyat menolak penunjukan para pemimpinnya seperti di zaman Orde Baru.

Dalam sistem pemilu langsung, para calon, pendukung dan panitia pemilu bersikap dan bertindak secara pragmatis.

Kerja yang tidak mengedepankan persoalan benar atau tidak menurut suatu doktrin atau asas, baik atau tidak menurut satu ajaran: kriteria legitimasinya hampir sepenuhnya dikaitkan dengan hasil atau performativitas. (Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, halaman 155)

Kalau nanti pasangan calon presiden yang cacat dalam suatu proses menang dalam konstetasi pemilu 2024, khalayak dan kaum cendekiawan akan menerima. Tentu menerima keabsahan dengan catatan. Semacam menolak lupa.

Isti Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *