Pandeis Haq Harapkan Kampus Ikut Berperan Aktif Dalam Pencegahan Ideologi Khilafah

by -368,194 views

Mediasiber.com – Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara (PW GP Ansor Sultra), Pendais Haq menyebut bahwa salah satu lokasi yang cukup banyak bertebaran aliran pro ideologi khilafah adalah Universitas Halu Oleo Sultra.

“Bahwa di Universitas Halu Oleo, dari 15 fakultas sepakat dengan ideologi khilafah. Ini terjadi dimana Universitas Halu Oleo dikuasai oleh mereka dan basis pengkaderan mereka adalah beasiswa bidik misi,” kata Pendais dalam webinar bertemakan “Menghambat Dan Menangkal Pertumbuhan Radikalisme /Khilafahisme Melalui Kampus”, Jumat (17/7/2020).

Data yang disampaikan Pendais adalah hasil survei tahun 2015. Sementara di tahun 2017 jumlahnya menurun namun masih di angka cukup besar.

“Pada tahun 2017 dilakukan pengecekan kembali surveinya sudah menurun namun masih ada 11% mahasiswa Halu Oleo dari 15 fakultas yang sepakat dengan adanya khilafah tersebut,” imbuhnya.

Pendais memberikan saran agar ada langkah-langkah pencegahan dini (prefentif) agar paham radikal dapat ditekan semaksimal mungkin.

“Perlu langkah-langkah prefentif yang dilakukan untuk menangkal paham radikalisme. Bagaimana PMII dan forum santri nasional dalam menangkal paham radikalisme,” ujarnya.

Kemudian, ia pun berharap ada peran aktif pihak kampus untuk mengusir dan menghalau ideologi Khilafah dan paham radikal tidak tumbuh kembang di wilayah mereka.

“Saya mengharapkan kepada civitas akademika untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap kegiatan-kegiatan mahasiswa, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan. Karena biasanya mahasiswa yang masih mencari jati diri mudah terpapar doktrin radikalisme,” tuturnya.

Selain itu, Pendais juga berharap agar pemerintah bisa memiliki formula yang tepat untuk menangkal paham radikal dan ideologi Khilafah.

“Juga berharap pemerintah yang mempunyai regulasi terhadap lembaga pendidikan, kemudian menanamkan nilai-nilai pendidikan sejak dini sehingga dapat melindungi sektor pendidikan dari masuknya kelompok penyebar paham radikalisme itu,” sambungnya.

Doktrin radikal menyasar kaum muda

Lebih lanjut, Pendais juga mengingatkan bahwa paham radikal dan ideologi trans-nasional yakni khilafah lebih suka menyasar kaum muda yang masih labil dan tengah sibuk mencari jati diri mereka masing-masing.

“Mahasiswa merupakan target penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Agar hati-hati terhadap tawaran berkedok kegiatan mengaji sehingga jangan sampai hanya ikut mengaji atau daurah sebulan atau 2 bulan berani berfatwa,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Pendais juga membeberkan ciri-ciri kelompok yang patut dicurigai sebagai kelompok berpaham radikal (radikalisme) dan terorisme, yakni eksklusif, intoleran, sering melakukan nikah tanpa wali, dan mudah mengkafirkan kelompok lain.

Atas dasar itu, organisasi sayap NU yakni Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memiliki tugas penting untuk memberikan edukasi yang tepat dan terukur kepada masyarakat yang memiliki tingkat kerentanan terhadap pengaruh dan doktrin kelompok pro khilafah dan orang-orang yang berpaham radikal.

“PMII mulai saat ini melakukan peran dalam keagamaan agar mahasiswa yang baru saja mencari jati diri tidak langsung terjerumus ke orang-orang yang menyebarkan pemahaman radikalisme,” jelasnya.

Hanya saja, PMII sebagai organisasi diharapkan tidak malah memberikan efek jenuh. Harus ada inovasi dan warna yang bisa menjadi alat untuk melakukan trigger.

“PMII sebenarnya juga harus memberikan warna agar mahasiswa-mahasiswa tahu kalau PMII adalah tempat yang bagus untuk mengasah wawasan kebangsaan dan keagamaan mereka. Salah satunya bagaimana PMII bisa menguasai masjid-masjid kampus. Seperti pesan ketua PB PMII bahwa keder harus kembali ke masjid,” tandasnya.

“Inilah yang menjadi motivasi sebenarnya buat seluruh kader PMII agar bisa melawan penyebaran paham radikalisme di kampus,” tutupnya. [JIB]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *