Jaga Indonesia dari Radikalisme & Intoleransi, Stafsus BPIP : Benteng Tangguh Kita adalah Pancasila

by -208,427 views

Jakarta – Badan Nasional Pemberantasan Terorisme menyelenggarakan kegiatan dialog kebangsaan dan deklarasi kesiapsiagaan nasional dengan tema “Membangun Sinergi Cegah dan Deteksi Dini Ancaman Terorisme Berbasis Pemberdayaan Masyarakat” yang dihadiri oleh peserta acara dari masing-masing instansi maupun dari masyarakat di Grand Borobudur hotel Jakarta(2/8).

Agenda ini menggandeng beberapa tokoh masyarakat dan pimpinan, serta stafsus BPIP dalam rangka menindaklanjuti rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstrimisme berbasis kekerasan yang mengarah kepada terorisme tahun 2020-2024 (RAN-PE). Yakni ikut berperan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Seminar secara Luring ini dihadiri antara lain Wakil Menteri Dalam Negeri, Kepala BNPT, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan, tokoh NU Alysa Wahid, Psikolog ibu Dr Arijani Laksmawati M. psi, Kementrian Pemberdayaan Perempuan, Kementrian Pedesaan, Badan Intelejen Negara , Forum Kesbangpol Kabupaten Kota dan Ketua forum kewaspadaan kabupaten kota dan undangan lainnya.

Dalam Sambutan Pembuka dari Ketua BNPT Bapak Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar.,M.H menyatakan bahwa terorisme merupakan kejahatan yang anti dengan ideologi Pancasila. Beliau menjelaskan bahwa kita akan melihat teroris menghalalkan semua cara untuk mengupayakan kekerasan dalam aksinya. Bangsa Indonesia harus memiliki identitas dan memiliki legacy para pendiri bangsa.

“Kita memiliki permasalahan kondisi lingkungan strategis dimana kita tidak hidup dalam ruang waktu tapi hidup dalam kehidupan internasional. Jati diri kita sangat tangguh dan kita memiliki nilai yang tinggi dan tidak dimiliki negara lain. Pengaruh global membawa kita terpaksa harus berpaling dengan sistem ideologi bangsa kita yang sangat tidak setuju dengan kekerasan dalam mencapai tujua maka dari itu kita harus mengetahui bahwa Pancasila adalah ideologi yang anti dengan kekerasan,” tutur Boy.

Menurut Boy kewajiban dari generasi ke generasi kita tidak boleh lengah dan dipengaruhi sistim global.

“Kita harus yakin dengan jatidiri bangsa kita, oleh karena itu kita melakukan kolaborasi dengan BPIP untuk menjadikan Pancasila sebagai moral publik,” tandas Boy.

Selain itu, Boy berpendapat bahwa kita harus kokoh mencegah intoleransi dan terorisme yang sekarang mewabah bagai virus covid-19.

“BNPT update terhadap kasus kekerasan di negara ini terutama dengan motif deduksi politik. Jangan sampai dunia dikuasai oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” tutup Boy.

Selanjutnya dalam sambutan dari Wakil Kementrian Dalam Negeri, John Wempi Wetipo menyatakan bahwa ekstirimisme merupakan benih terorisme.

“Itu dipengaruhi dengan cara berpikir. Pencegahan terorisme merupakan agenda pemerintah dalam memberikan negeri yang aman dan damai. Semua itu sudah diwujudkan melalui upaya komprehensif memberantas terorisme,” tegas Wempi.

Menurut Wempi, sebagaimana dinamika sospol saat ini memberi dampak berbangsa bernegara.vBanyaknya tuntutan aksi berlebihan, primordialisme serta aksi separatis anarkis memunculkan dampak instabilitas nasional.

“Banyak konflik yang muncul yaitu konflik bernuansa suku agama dan golongan, apalagi di beberapa tahun kedepan akan dilaksanakan pemulu 2024. Semakin tinggi dinamika maka akan memunculkan masalah didalamnya. Ketentraman dan ketertiban merupakan tujuan output yang saling berkait keseluruhan. Perlu upaya dan langkah dan strategi dari pemerintah yaitu dengan deteksi dini di dalam masyarakat di daerah dengan melibatkan masyarakat yang ada didalam NKRI,” tandas Wempi.

Lebih lanjut Wempi menegaskan sejak diterbitkan UU Oonomi Daerah pada saat ini tugas kepala daerah diatur pasal 65 tahun 2003 tentang Pemerintah Desa.

“Tugas pemerintah daerah yaitu untuk pencegahan dan rehabilitasi sesuai dengan PP mendagri nomor 22 thn 2018 yang diperbarui menjadi PP 46 thn 2019 sebagai dasar pemerintah daerah untuk membentuk tim kewaspadaan masyarakat dan forum kewaspadaan masyarakat,” jelasnya.

Dalam Dialog Kebangsaan bersama beberapa Panelis, Romo Benny menyatakan bahwa Pancasila merupakan benteng tangguh terakhir penjaga NKRI dari intoleransi dan radikalisme. Ia menyatakan bahwa bicara tentang radikalisme, maka semua agama itu radikal. Kerap kali kebenaran agama dimanipulasi mengenai kekerasan.

“Hati-hati jika agama tidak ditafsirkan dalam konteks kebudayaan masa itu maka gampang sekali dimanipulasi untuk kepentingan politik merebut kekuasaan. Trend dalam dunia maya sekarang konteks manipulasi itu dibenturkan antara agama dengan Pancasila. Maka Pancasila bisa menjadi perisai menjawab masalah yang terjadi saat ini di Indonesia yaitu keretakan hidup berbangsa dan bernegara. Masalah saat ini yang sering terjadi dalam masyarakat yaitu Mayoritas minoritas, politik identitas, fundamentalisme yang menyebar melalui media sosial.” ungkap Benny.

“Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran literasi digital untuk menyatukan 4 komponen yaitu pemerintah perguruan tinggi, media, dan masyarakat untuk bersama memerangi bahaya intoleransi maupun radikalisme kepentingan bangsa dan negara.”tegas Benny.

Menurut Benny, kita harus kolaborasi merebut ruang publik karena hampir 120 juta pengguna gadget di Indonesia sering menggunakan medsos tanpa memiliki kesadaran kritis apakah konten itu bisa menghancurkan keutuhan hidup bangsa. Kesadaran terhadap literasi digital yang lemah itu membuat kita lebih bisa dimanipulasi.

“Disini kekuatan sinergi sangat penting dalam membangun konten yang mempengaruhi perilaku salah satunya dengan Kebudayaan.Kebudayaan memiliki nilai adat istiadat dan nilai kearifan. Kalau kita bicara kolaborasi adalah sila ke 3 Pancasila.Problem kita adalah ego sektoral dan kepentingan global membuat kita tergantung dan lemah, ” tegas Benny.

Lebih lanjut menurut Benny untuk melawan itu kita tidak mungkin melawan kecuali kita memiliki benteng yaitu Pancasila.Bangsa Indonesia harus bersyukur memiliki Pancasila, andaikata Pancasila tidak dimiliki oleh bangsa Indonesia maka saat covid bangsa ini menjadi hancur.

“Anak-anak di zaman dulu itu doktrinal tapi sekarang sudah tidak bisa lagi.Saat ini anak-anak harus menciptakan Konten-konten yang harus beridentitas bagaimana kita bangga trhadap produk dalam negeri dan itu harus dikapitalisasi menjadi kekuatan. Anak-anak sekarang memiliki tempat ekspresi yang terbatas” tutur Benny.

Menurut Benny, Pancasila harus menjadi working ideology dimana tujuannya yaitu harus terwujudnya masyarakat sejahtera lewat kebijakan maka setiap elit politik pemeritahan daerah memiliki kesejahteraan kebijakan memihak yang lemah.

“Contohnya Pak Jokowi memberikan anggaran terhadap desa. Sedangkan living yaitu Pancasila dihayati dalam keseharian. Dahulu anak terbiasa dengan permainan tradisional tapi sekarang dikuasai oleh gadget. Maka seyogyanya kembalikan pendidikan keluarga itu karena penting. Mulai sekarang mari hidupkan tradisi lokal untuk melawan radikalisme, budayakan kritis yang positif untuk membedakan mana yang baik dan buruk dalam media sosial.Manusia hanya satu dimensi yaitu mekanis teknologi, pendidikan literasi digital harus masuk kedalam pendidikan. Literasi digital juga harus masuk dalam keluarga maupun dalam pra perkawinan”, tutup Benny.

Senada dengan itu, Ibu Alysa Wahid menyatakan bahwa Indonesia masih menjadi barometer kerukunan dunia dan selalu mendapatkan aspirasi positif dan menjadi model bagi kerukunan umat beragama namun persoalan akhir-akhir ini yaitu maraknya intoleransi, radikalisme, fundamentalisme dan kekerasan berdarah.

“Agama itu menjadi catatan kita bersama bagi elemen bangsa untuk lebih waspada serta lebih meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga keutuhan hidup berbangsa dan bernegara karena ada indikasi praktek intoleransi itu mulai berkembang (menyebar) di elemen masyarakat. Apalagi dengan maraknya media sosial yang kerap kali mengangkat isu isu toleransi, radikalisme fundamental isme menjadi konten-konten di media sosial yang mempengaruhi pola pikir anak-anak generasi muda sekarang akibatnya masyarakat mudah terprovokasi”, tutur Alysa.

Alysa menyatakan bahwa kita ada di posisi yang nyaman, kita tidak bisa melihat bangsa Indonesia seperti potret tapi harus melihat sesuai dengan video. Ancaman terorisme muncul ketika tradisi dibenturkan dengan faham keagamaan. Model beragama ada 2 yaitu yang meyakini agama yang dianutnya benar(ekslusif formalistik) dan yang substantif inklusi (merangkul keseluruhan). Riset membuktikan tahun 2020 mayoritas kecenderungan paham radikalisme ini cenderung ke perempuan. Satu karena itu lewat media sosial, perempuan berinteraksi dengan sosial Communications lebih kuat ketika dalam percakapan ada leader maka dia akan dipengaruhi.Di budaya barat ada kristofasisme dan white supremacy. Kita jangan sampai terjebak menyatakan bahwa mayoritas itu paling benar.

“Kalau saya belajar jika kita melakukan perubahan berkesinambungan harus ada 4 dimensi yang dipengaruhi yaitu dimensi kebijakan yaitu penyelenggara kebijakan publik yang tidak diskriminatif, kedua perilaku akar rumputnya yaitu bagaimana cara orang tua mengenal putra putrinya maka harus diajarkan pendidikan dan pelatihan anti terorisme, yang ketiga adalah pendekatan agama dan keempat adalah kekuatan masyarakat sipil,” tutup alysa.

Selanjutnya Psikolog Ibu Arijiani menyatakan bahwa proses radikalisasi berujung teror itu bukan sebuah proses yang sebentar tapi proses panjang sekali. Dalam penelitian remaja yang terpapar radikalisasi ada tahapan pre radikalsme. Ini membuat semua orang yang terkena terpaan berita di sosmed akan terkena paham Radikal akibat munculnya berita berulang. Munculnya keinginan untuk eksistensi di masyarakat mendorong anak remaja terpapar paham radikalisme.

“Salah satu tanda munculnya adalah suka mengkritisi aturan baik di rumah maupun di negara. Mereka sedang menguji pemikiran nya di luar bagaimana mereka bisa diakui dalam tataran lebih luas. Hal itu kalau kita lihat menjadi sangat rentan bagi ideologi radikal untuk masuk. Jika ini dibiarkan maka akan memunculkan generasi kemartiran yang mereka bisa bergerak sendiri karena panggilan dalam hati dan tanpa jaringan.” jelasnya.

Ia menambahkan, “Sadar tidak sadar agen ini mengkontruksi ekslutifitas agar generasi muda memiliki cara berpikir seperti itu dengan membeda bedakan agama. formula paling tepat adalah ketika membentuk perisai benteng ancaman radikalsime yang berawal dari ketidakmampuan permasalahan keberagaman, perilaku enklusif harus melibatkan kita semua terutama dalam menggalakan kegiatan positif kedepannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *