Cetak Generasi Pemersatu Bangsa, SMA Ksatria Nusantara Komitmen Cegah Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Pelajar

by -252,221 views

Pangandaran – Sebagai upaya dalam mencegah paham radikalisme dan terorisme dikalangan remaja dan pelajar serta menyiapkan kader-kader Nahdiyin yang akan di sebarkan di semua lini, Kyai Luthfi Fauzi, S.H.I., MM, pengasuh Pondok Pesantren Riyadussalikin, selaku inisiator yang mempelopori gagasan pembanguan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan menggabungkan perpaduan kurikulum nasional dengan kurikulum pondok pesantren ditambah dengan penguatan sikap nasionalisme dan cinta tanah air dalam kurikulum pendidikanya.

“Saya menginisiasi atau membikin SMA Ksatria Nusantara dengan harapan bahwa akan lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa yang Pancasilais, nasionalis, patriotis juga mencintai dan menjaga serta berkomitmen terhadap NKRI,” kata Kyai berwajah teduh ini menjelaskan.

Kakak kandung dari Milki Barokah, Ketua Fatayat NU Kabupaten Pangandaran, mengungkapkan bahwa SMA Ksatria Nusantara yang berlokasi di Desa Karangpawitan Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran, memiliki visi sebagai sekolah yang membentuk kader pemimpin bangsa berkualitas dan berkarakter yang berwawasan kebangsaan, kejuangan dengan bercirikan kenusantaraan dipadukan dengan pendidikan pondok pesantren serta memiliki daya saing nasional maupun internasional.

“Dengan adanya sekolah ini, diharapkan akan muncul kader-kader penerus bangsa yang mampu memimpin bangsa dengan intelektual tinggi dan spiritual yang baik sesuai nilai moral yang selalu kami tanamkan dan tumbuhkan kepada para santri atau siswa yaitu kuat, sabar, dan taat,” ujar suami dari I’an Fauziah menambahkan.

Bapak dari tiga orang anak ini juga menerangkan bahwa SMA Ksatria Nusantara memiliki empat misi penting.
1. Menyiapkan kader pemimpin bangsa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Menyiapkan kader pemimpin bangsa yang berkualitas, berkarakter, dan berbudaya serta memiliki kesetiaan terhadap NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
3. Mengembangkan sikap disiplin, ketaatan, kesabaran, kepatuhan, dan kepemimpinan melalui kegiatan keagamaan, organisasi siswa, ekstakulikuler maupun kegiatan lain yang berkarakter budaya bangsa.
4. Menyiapkan kader yang mampu berkompetisi dalam lingkup nasional maupun internasional secara sportif dalam berbagai bidang dan kesempatan dengan mengedepankan aspek kebangsaan.

Pria yang pernah menjadi santri pada Pesantren Darussalam Ciamis ini menegaskan bahwa SMA Ksatria Nusantara menerapkan pendidikan Pancasila secara ketat dalam berbagai kegiatan, selain para siswa wajib melapalkan, mereka juga harus bisa mengamalkan setiap silanya dalam kehidupan sehari-hari.

Pengamalan sila pertama tercermin dalam keshalehan pribadi menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Sila kedua tercermin dalam keshalehan sosial yang menunjukan sikap baik terhadap sesame, seperti menghormati orang lain baik yang seagama atau yang berbeda agama, sesuku atau berbeda suku, menghargai pendapat orang lain, berani mengakui kesalahan, dan mau berbagi.

Sementara pengamalan sila ketiga, para siswa harus bisa mengembangkan nilai-nilai persatuan dan cinta tanah air, Hubbul Wathon Minal Iman, yang tercermin dalam jiwa korsa setiap siswa, membiasakan bertabayyun dalam menerima informasi yang belum jelas kebenaranya, dan menggunakan Bahasa Indonesia dalam keseharian.

Pengamalan sila keempat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan harus berdasarkan musyawarah atau kesepakatn bersama dan sila kelima tercermin dalam sikap saling menolong, menghormati hak-hak orang lainyang seagama atau berbeda agama, sesuku atau berbeda suku, dan tidak membeda-bedakan teman dengan prinsip berdiri sama tinggi duduk sama rendah.

Jebolan IAID Darussalam jurusan Hukum Islam ini juga menyampaikan bahwa kurikulum pondok pesantren yang diajarkan adalah pelajaran kitab kuning yang bertujuan untuk menambah pemahaman agama bagi para siswa sehingga mereka mampu memahami Al Quran secara tekstual maupun kontekstual dengan kajian-kajian imu tafsir.

Pelajaran agama yang diberikan diantaranya seperti ilmu Ulumul Quran, Ulumul Hadist, Fiqih, Usul Fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawuf, Ilmu Nahwu dan tata bahasa sehingga mereka tidak akan kagetan dengan berbagai ikhtilaf atau perbedan-perbedaan yang ada dalam intern agamanya atau dengan yang berbeda agama.

“Dengan sistem pendidikan seperti ini, diharapkan siswa-siswi kami tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang baik,” kata putra sulung Alm. KH.Drs.Masruh Haeruman.

Pendidikan nasional yang dipadukan dengan pendidikan pondok pesantren dan ditambah dengan pendidikan Pancasila akan mampu mencetak manusia yang berkarakter dari sisi kesalehan pribadinya dan kesalehan sosialnya yang seimbang. Manusia-manusia seperti yang dibutuhkan oleh Negara Indonesia. Harapanya setelah mereka selesai melaksanakan pendidikanya di SMA Ksatria Nusantara mereka jadi agen pemersatu bangsa yang disebarkan di perguruan tinggi negeri untuk mencegah paham radikalisme dan terorisme yang masuk dan berkembang di lembaga tersebut, baik yang sudah terpapar atau yang belum terpapar.

“Hal ini dapat membantu pemerintah dalam memberantas radikalisme dan terorisme di Indonesia,” kata Kyai jebolan pasca sarjana ARS Internasional Bandung ini dengan penuh semangat.

Pada awal pembangunan gedung SMA Ksatria Nusantara tahun 2020, Profesor. KH. Drs. Yudian Wahyudi, MA., P.H.D, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), adalah tokoh nasional yang meletakan batu pertama untuk menandai berdirinya bangunan sekolah SMA Ksatria Nusantara.

“Ini amanah kepada saya untuk meletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Ksatria Nusantara ini, marilah kita doakan mudah-mudahan dari sini lahir jenderal-jenderal, yah, yang mempertahankan Pancasila dan NKRI,” kata Yudian sambil terisak menahan tangis haru saat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *