Benny Susetyo : Pengarusutamaan Pancasila Butuh Kuatnya Literasi Digital

by -144,358 views

Surabaya – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila menyelenggarakan Jejaring Panca Mandala Provinsi Jawa Timur yang dihadiri peserta kegiatan Pengurus Jaringan Panca Mandala di Provinsi Jawa Timur yang berjumlah 195 orang di Grand Dafama Hotel Surabaya (26/7).

Menggandeng 38 kabupaten kota di Jawa Timur, BPIP berupaya membentuk forum collaborative governance yaitu Jejaring Panca Mandala yang diinisiasi oleh dan dari komponen masyarakat yang bersifat sukarela dan berdasar akan kesamaan tujuan, dalam ikut berperan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Seminar secara Luring ini dihadiri Antara lain Direktur Hubungan AntarLembaga dan Kerjasama Elfrida Herawati Siregar, S.P.,M.M, Direktur Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila Toto Purbiyanto S.Kom.,M.Ti, Direktur Jaringan Pembudayaan Dr Irene Camelyn Sinaga, AP.,M.Pd, Budayawan Dr Zawawi Imron dan undangan lainnya. Dalam Diskusi sesi 1 di acara jejaring Panca Mandala Provinsi Jawa Timur dengan tema Literasi Digital Pancasila melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Pengantar Sosialisasi, Promosi Pancasila. Romo Benny Menyatakan Bahwa Pentingnya Literasi Digital dalam Pengarusutamaan Pancasila

Dalam paparan pembukanya, Antonious Benny Susetyo menyatakan juga bahwa pentingnya literasi agar berita hoax jangan segera di share ke Publik.Gunakan 5 jari untuk mengetik dengan bijaksana, bangsa Indonesia harus memberantas berbagai kebohongan di sosial media dengan budaya pemutus kata bukan pengiya kata.

”Jika berbicara tentang digitalisasi itu menjadi kemampuan kita untuk memiliki kesadaran kritis untuk memanfaatkan media dan sarana komunikasi mana yang boleh dishare dan mana yang tidak boleh dishare”, tegas Benny.

“Jika menyebarkan konten SARA, maka kita secara langsung akan merusak persatuan dan kesatuan bangs aini yang berakibat bangsa hancur dan negara menjadi tidak ada lagi.” imbuhnya.

Dewasa ini, menurut Benny manusia semakin pragmatis dalam menciptakan konten dan hal itu bisa menghancurkan kepakaran. Dengan muncul berbagai macam komentar tanpa filter di dunia digital maka seolah manusia direduksi oleh teknologi yang lebih lanjut menyebabkan manusia dijajah oleh teknologi sehingga manusia kehilangan kesadaran kemanusiaan.

”Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran.jika kita memiliki kesadaran literasi maka kita bisa memiliki alat untuk mempersatukan bangsa ini dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.” ujar Benny.

Lebih lanjut, Benny menyatakan bahwa ujaran kebencian banyak dilakukan oleh orang dengan rata-rata usia 40 tahun keatas. Oleh karena itu dengan kemampuan anak-anak muda generasi milenial menciptakan konten positif bisa mempengaruhi pergerakan tak terbatas ruang dan waktu. Dampak dari konten positif ini adalah munculnya ruang kreasi seni dengan budaya lokal yang kuat.

”Bagaimana ruang digital ini menjadikan Pancasila sebagai habituasi.Kekuatan Publikasi digital dan dukungan dari media secara persuasive diharapkan membuat Pancasila nantinya menjadi living ideology dan working ideology,” tegas Benny.

Dalam prakteknya, Presiden Joko Widodo ingin menjadikan sila ke-3 dan sila ke-5 terimplementasi merata di seluruh Indonesia. Hal itu sudah terlihat baik dari pemerataan pembangunan maupun perbaikan SDM di masing-masing wilayah di Indonesia. Pancasila itu sampai saat ini merupakan kesepakatan sehingga kita bisa hidup dengan damai.

“Bagaimana cara menanamkan nilai Pancasila dalam era digital yang terdiri dari pertarungan gagasan dan ideologi? Ibarat Siapa yang menguasai Konten dan Pengetahuan maka dialah yang menguasai dunia, maka Pancasila harus selalu hadir dalam ruang digital tersebut,” ujar Benny.

Menurut Benny, yang terpenting sekarang bagaimana kita menegakkan Pancasila melalui budaya. Bagaimana kita harus mengangkat budaya lokal menjadi refleksi keteladanan Pancasila,terutama budaya yang menjunjung tinggi kebersamaan.

“Banyak dari kita kehilangan kesadaran berpikir ketika muncul media digital,pendidikan karakter hilang,budaya korupsi meningkat ketika terjadi hedonism. Maka sudah seyogyanya kita Kembali ke industry dan budaya lokal. Pancasila sudah terbukti membuat Indonesia eksis sampai sekarang. Saatnya kita merebut dunia digital dengan Pancasila supaya timbul kebudayaan tanpa merusak dan menuntun budaya kita menjadi Tindakan lokal Pemikiran global” ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, Benny menyatakan dari semua pengalaman yang ada, ditekankan bagaimana kita bersama menyadari bahwa ruang publik itu tidak hampa dan mengisi konten itu adalah tugas Bersama.Apakah konten itu adalah kearifan lokal, makanan,, budaya, kerukunan, gotong royong dan hal baik harus kita hidupkan.

”Kemampuan kita secara persuasif dalam membuat konten sangat ditekankan bukan sekedar mengajari atau menggurui. Kemampuan kita menciptakan konten creator yang mempengaruhi ruang publik juga ditekankan lebih proaktif untuk melawan kisruh ruang publik yang memanfaatkan emosi reaktif. Dengan membuat bahasa sederhana akan konten positif maka arogansi akan runtuh.” tuturnya.

Selain itu Benny juga menyatakan media harus obyektif dan beritanya tidak meresahkan masyarakat serta membesarkan Kasus SARA.

”Tantangan kita di era digital adalah dengan memproduksi konten orisinil.kita harus bisa menciptakan branding value dalam konten itu ditambah bantuan gotong royong pemerintah dan masyarakat dalam memasarkan konten tersebut.” tegas Benny.

Terakhir, Benny berharap seluruh media baik di Jawa Timur baik ditingkat kampung maupun daerah bisa bermitra kedepannya dalam membangun konten positif.

Senada dengan itu Direktur Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila Toto Purbiyanto menyatakan bahwa Peran peserta JPM ini sangat penting dalam membumikan Pancasila kepada masyarakat.

“Dengan JPM ini kita berkomitmen bahwa apa yang kita sampaikan di Sosmed adalah hal yang baik, dan jangan sampai kita berpikir ego sektoral. Mari kita dukung sesame rekan di kabupaten dan kota untuk saling mengshare idenya supaya Kabupaten lain dapat terisnpirasi serta dapat mereplikasi ide dengan terobosan yang lebih maju” tutupnya di sesi pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *